Minggu, 12 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 8


(7)
ANTIQUE, itulah nama tokoku. Sebagai toko barang antik, toko itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai pengunjungnya. Sehari tokoku paling banyak dikunjungi sepuluh orang. Itu pun kebanyakan orang asing yang mencari benda-benda antik dari berbagai etnis di negeri ini. Konon banyak pengunjung asing yang terkagum-kagum atas koleksi barang antik yang dimiliki toko kami itu. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara istriku mendapatkan benda-benda tersebut. Kata pegawai tokoku, barang-barang itu dicari sendiri oleh itriku sampai ke pelosok-pelosok negeri, meskipun kadang juga ada yang datang menawarkan barang antik kepada toko kami. Masih kata pegawaiku juga, istriku sangat teliti dalam menguji orisinalitas barang-barang itu. Ia tidak segan-segan untuk menanyakan kepada ahlinya, menguji materinya di laboratorium, bahkan kesejarahan kepemilikan barang itu pun tak luput dipertanyakannya.

Taman Para Bidadari: 7



(6)
Aku terbangun.
Ketika aku akan membuka selimutku dan bergerak untuk bangun, sebuah tangan dengan kulit  halus tiba-tiba saja meraba dadaku, lantas dari balik selimut yang aku pakai, satu sosok dengan mesra memelukku.
 “Sayang sudah bangun?” tanyanya mesra.
“Iya,” jawabku ragu-ragu. Iya, ada keraguan pada jawabanku.
Lalu, sosok yang memelukku itu mengangkat kepalanya yang tadi terbenam di dadaku. Wajah yang sangat cantik! Sebelum aku sempat berpikir—atau bertanya, mungkin—sebuah ciuman mesra melumat bibirku beberapa saat.

Rabu, 08 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 6


(5)
Berita terbunuhnya Prof. James Anderson tidak menarik perhatian media massa. Sebab setelah jenazah Prof. James Anderson dipulangkan ke keluarganya, tak satu pun media massa yang memberitakannya. Sesekali saja dikabarkan bahwa kasus pembunuhan itu belum menemukan titik terang. Dan, tampaknya polisi pun tidak sungguh-sungguh untuk mengungkap kasus itu, mungkin sebab korban adalah orang asing.

Taman Para Bidadari: 5


 (4)
Empat hari tiga malam aku menjadi tahanan di kantor polisi. Pada hari keempat, pukul 13.00, aku dibebaskan dengan sedikit penjelasan saja dari salah seorang polisi, “Dwi Maulidar sudah ditemukan.” Hanya kalimat itu yang kurang lebih mengurangi tanda tanyaku mengapa aku dibebaskan. Aku tak ingin bertanya lebih jauh, lagi pula aku sudah terlalu kangen dengan rumahku. Dengan gembira dan menahan kelelahan baik fisik maupun psikis, aku kembali ke rumahku sore itu, rumah kecil di pinggiran ibukota.

Taman Para Bidadari: 4





(3)
Esoknya berita hilangnya Dwi Maulidar menjadi headline beberapa surat kabar besar. Bahkan, satu surat kabar menjadikannya sebagai tajuk dengan ulasan yang menurutku mengada-ngada. Dikatakannya bahwa Dwi Maulidar diculik oleh lawan berpolemiknya selama ini. Jelaslah mengada-ngada sebab lawan berpolemik Dwi Maulidar adalah aku! Bukankah aku sendiri saat kejadian berada di gedung tempat seminar akan berlangsung? Beberapa televisi pun menempatkan berita itu dalam berita investigasi, lengkap dengan ulasan narasumber yang ahli dalam kriminologi. Berbagai spekulasi hilangnya Dwi Maulidar beredar di masyarakat.

Taman Para Bidadari: 3




(2)
Hari pertama aku masuk kantor setelah sakit, aku sudah dikejutkan sebuah undangan dan Term of Reference Seminar Internasional Cerita Bidadari dalam Khazanah Sastra Dunia yang tergeletak di atas meja kerjaku. Aku membaca ToR itu dan di sana tercantum nama aku sebagai pembicara, yang dipanel dengan Dwi Maulidar. Jelas itu membuat aku terkejut. Selama aku sakit, menurut kesadaranku, tidak pernah ada satu pun panitia yang menghubungiku.
Handphone aku bergetar, sebuah nomor yang tidak ada di phonebook terlihat di layar. Aku pun mengangkatnya, “Halo…”

Selasa, 07 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 2



(1)
Di Cafe Romanza, Agustus 2010, pukul 20.00, aku menikmati makan malam sendirian. Malam itu aku sangat gembira ketika hari ini artikel aku dimuat di sebuah surat kabar terkemuka di negeri ini. Tulisan itu mengupas tentang dongeng-dongeng bidadari yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Bagi aku, sebab cerita bidadari itu termasuk dalam kategori dongeng maka bisa dipastikan cerita tersebut adalah cerita khayalan, meskipun tentu saja banyak agama yang menyebut-nyebut keberadaan bidadari. Intinya pada artikel itu aku ingin menegaskan bahwa bidadari itu tidak ada. Lantas, aku akhiri artikel itu dengan kalimat, “Kalau memang bidadari itu ada, ayo tunjukkan wujudmu padaku!”

Taman Para Bidadari: 1



Awalnya aku tidak memercayai bidadari. Bidadari, bagi aku, hanyalah sebuah mitos, yang dibawa oleh agama untuk membius manusia agar tunduk kepada Tuhan. Konon, bidadari adalah perempuan yang sangat cantik di mana kecantikannya tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata yang tersedia di seluruh bahasa. Bidadari diciptakan Tuhan sebagai hadiah bagi laki-laki saleh. Ya, bagi laki-laki saleh, bukan bagi perempuan saleh. Tuhan tidak menyiapkan hadiah bagi perempuan saleh. Sebab itulah temanku berkata dengan lantang, “Tuhan tidak adil!  Tuhan hanya berpihak kepada laki-laki, tidak berpihak kepada perempuan.”  Pun aku tidak sependapat pula bahwa bidadari adalah hadiah bagi laki-laki saleh. Kesalehan adalah sebuah totalitas manusia beriman memasrahkan seluruh kehidupannya di bawah naungan keridloan Tuhan, tidak sepatutnya sikap itu diiming-imingi hadiah yang berhubungan dengan seksualitas. Dengan sederhana, mungkin bisa aku katakan kesalehan equivalen dengan seks!