(1)
Di Cafe Romanza,
Agustus 2010, pukul 20.00, aku menikmati makan malam sendirian. Malam itu aku
sangat gembira ketika hari ini artikel aku dimuat di sebuah surat kabar
terkemuka di negeri ini. Tulisan itu mengupas tentang dongeng-dongeng bidadari
yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Bagi aku, sebab cerita bidadari
itu termasuk dalam kategori dongeng maka bisa dipastikan cerita tersebut adalah
cerita khayalan, meskipun tentu saja banyak agama yang menyebut-nyebut
keberadaan bidadari. Intinya pada artikel itu aku ingin menegaskan bahwa
bidadari itu tidak ada. Lantas, aku akhiri artikel itu dengan kalimat, “Kalau
memang bidadari itu ada, ayo tunjukkan wujudmu padaku!”
Entah kenapa café yang setiap malamnya ramai
ini malam in sepi. Pengunjungnya hanya beberapa orang saja. Ketika aku hendak
menyelesaikan suapan terakhir, aku terkejut entah darimana asalnya tiba-tiba
berdiri di depan mejaku sebuah sosok. Sebelum sempat aku berbicara, ia melempar
koran ke arahku. Aku lirik koran itu dan aku pun tahu bahwa koran itu adalah
koran hari ini yang berisi artikelku.
“Anda
tidak percaya bidadari? Lihat, aku salah seorang bidadari itu!” kata sosok itu.
Aku pun
lalu menatap sosok tersebut. Dan, deg-deg-deg jantungku berdebar begitu cepat.
Sosok itu sosok seorang perempuan dengan wajah yang sangat cantik. Bau harum
pun langsung menyebar memenuhi ruangan café itu. Aku sempat tertegun, tapi tak
lama ketika kesadaran aku pulih, aku pun bertanya, “Maaf, apa buktinya Anda
bidadari?”
“Tidak
ada,” katanya.
“Ya,
sudah. Aku tidak percaya Anda bidadari meskipun Anda sangat cantik,” jelasku,
suapan terakhir aku selesaikan. Nikmatnya makan ketika hati senang terasa betul
malam itu. “Oh, ya, jika Anda mau makan, tinggal pesan saja. Aku yang akan
bayar.”
“Tidak, aku
tidak lapar! Aku ingin Anda mencabut pernyataan Anda di artikel tersebut,”
katanya.
“Jika aku
tidak mau?” tanyaku.
“Lihat
saja nanti,” katanya sambil membalikkan tubuhnya hendak meninggalkanku.
“Maaf,
siapa nama Anda?” aku memberanikan diri bertanya namanya.
“Dwi
Maulidar,” katanya tanpa menengok kepadaku.
“Oh ya,
Dwi Maulidar,” aku coba memasukkan nama itu dalam ingatanku.
Seminggu
kemudian di koran yang sama terbit artikel yang menyanggah seluruh pendapatku
tentang bidadari. Penulis artikel itu adalah Dwi Maulidar. Baginya, bidadari
itu ada, bidadari disediakan oleh Tuhan bagi hambanya yang saleh. Menurutnya,
pengingkaran terhadap eksistensi bidadari—yang sebenanrnya tidak eksis itu,
begitu pikir aku—adalah pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan sendiri. Ada
banyak ayat yang dikutip olehnya dari berbagai sumber kitab suci. Dengan gaya
populer, tetapi dengan analisis yang tajam, tidak heran jika artikel itu
mendapat banyak dukungan. Buktinya, besok dua artikel tentang bidadari secara
bersamaan dimuat di koran tersebut. Hebatnya dua tokoh agama yang menulis dan
sama-sama mendukung pendapat Dwi Maulidar dan tentu saja membantai habis
pendapat aku.
Masih pada
bulan Agustus 2010. Ketika polemik tentang ada-tidaknya bidadari menjadi
semakin ramai, aku—si pemicu polemik itu—justru terkapar di sebuah rumah sakit.
Tak ada satu artikel pun yang aku buat untuk menanggapi berbagai pendapat baik
yang mendukung maupun yang menentang pendapat aku. Demam tinggi pada suatu sore
menyerangku. Suhu tubuhku 39 derajat celcius! Ya, sangat panas! Aku terbaring
di Kamar 301 sendiri tanpa penunggu. Kadang-kadang aku mengingau. Aku
menyebut-nyebut nama Dwi Maulidar. Bahkan, kadang-kadang aku teriakkan nama itu
hingga perawat-perawat berlarian ke kamar aku.
Satu sore
saat jam besuk tiba, seorang perawat mengetuk pintu kamar aku.
“Bapak,
ada tamunya. Cantik banget tamunya,” kata perawat itu mencoba ramah pada aku.
Perawat itu masuk diikuti seseorang di belakangnya.
Ketika aku
menatap ke arah tamu itu, aku pun terperanjat.
“Dwi
Maulidar…!” kata aku setengah berteriak.
Yang
kupanggil malahan tersenyum. Kamar aku pun langsung berubah menjadi harum. Bau
harum yang aku kenali saat aku pertama kali bertemu dengannya.
“Maaf, aku
baru bisa menjenguk Anda hari ini. Baru hari ini aku tidak ada kegiatan,”
katanya.
Aku tidak
bisa berkata apa-apa.
“Bapak, aku
tinggal ya,” kata perawat, yang terus pergi meninggalkan kami berdua.
“Mengapa
Anda menjengukku?” tanya aku pada akhirnya.
“Sebab,
Anda sakit karena aku,” jawabnnya, “benar, bukan?”
Aku
terdiam. Mungkin juga, pikirku.
“Aku ingin
Anda cepat sembuh agar Anda bisa menyiapkan makalah untuk seminar internasional
bulan depan. Aku meminta panitia menghadirkan Anda sebagai pihak yang
berseberangan dengan aku. Aku ingin Anda bisa mengkaji lebih ilmiah pendapat
Anda tentang ketiadaan bidadari. Aku pun sudah menyiapkan makalah dengan baik,
tentu saja makalah yang mengkaji eksistensi bidadari,” terangnya, lalu dia
duduk di kursi di samping tempat tidurku.
Saat aku mendengarkan
penjelasannya, tubuh aku tiba-tiba terasa kian menggigil.
“Aku pun
datang membawa obat untuk Anda,” katanya, “demam Anda kian tinggi. Semoga obat
ini akan menyembuhkan Anda secepatnya.”
Lantas,
sangat tiba-tiba tanpa bisa aku tolak, dia pun mencium bibirku, melumatnya……
Sebuah hawa panas menjalari tubuhku. Terasa aku terbang melayang-layang. Tubuh aku
terasa nyaman, tak lagi aku rasakan demam.
“Pak…! Pak…!
Bangun! Bapak harus minum obat sekarang,” suara seorang perawat membangunkanku.
Lanjut ke Taman Para Bidadari 3
Lanjut ke Taman Para Bidadari 3

Tidak ada komentar:
Posting Komentar