Selasa, 07 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 2



(1)
Di Cafe Romanza, Agustus 2010, pukul 20.00, aku menikmati makan malam sendirian. Malam itu aku sangat gembira ketika hari ini artikel aku dimuat di sebuah surat kabar terkemuka di negeri ini. Tulisan itu mengupas tentang dongeng-dongeng bidadari yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Bagi aku, sebab cerita bidadari itu termasuk dalam kategori dongeng maka bisa dipastikan cerita tersebut adalah cerita khayalan, meskipun tentu saja banyak agama yang menyebut-nyebut keberadaan bidadari. Intinya pada artikel itu aku ingin menegaskan bahwa bidadari itu tidak ada. Lantas, aku akhiri artikel itu dengan kalimat, “Kalau memang bidadari itu ada, ayo tunjukkan wujudmu padaku!”

 Entah kenapa café yang setiap malamnya ramai ini malam in sepi. Pengunjungnya hanya beberapa orang saja. Ketika aku hendak menyelesaikan suapan terakhir, aku terkejut entah darimana asalnya tiba-tiba berdiri di depan mejaku sebuah sosok. Sebelum sempat aku berbicara, ia melempar koran ke arahku. Aku lirik koran itu dan aku pun tahu bahwa koran itu adalah koran hari ini yang berisi artikelku.
“Anda tidak percaya bidadari? Lihat, aku salah seorang bidadari itu!” kata sosok itu.
Aku pun lalu menatap sosok tersebut. Dan, deg-deg-deg jantungku berdebar begitu cepat. Sosok itu sosok seorang perempuan dengan wajah yang sangat cantik. Bau harum pun langsung menyebar memenuhi ruangan café itu. Aku sempat tertegun, tapi tak lama ketika kesadaran aku pulih, aku pun bertanya, “Maaf, apa buktinya Anda bidadari?”
“Tidak ada,” katanya.
“Ya, sudah. Aku tidak percaya Anda bidadari meskipun Anda sangat cantik,” jelasku, suapan terakhir aku selesaikan. Nikmatnya makan ketika hati senang terasa betul malam itu. “Oh, ya, jika Anda mau makan, tinggal pesan saja. Aku yang akan bayar.”
“Tidak, aku tidak lapar! Aku ingin Anda mencabut pernyataan Anda di artikel tersebut,” katanya.
“Jika aku tidak mau?” tanyaku.
“Lihat saja nanti,” katanya sambil membalikkan tubuhnya hendak meninggalkanku.
“Maaf, siapa nama Anda?” aku memberanikan diri bertanya namanya.
“Dwi Maulidar,” katanya tanpa menengok kepadaku.
“Oh ya, Dwi Maulidar,” aku coba memasukkan nama itu dalam ingatanku.
Seminggu kemudian di koran yang sama terbit artikel yang menyanggah seluruh pendapatku tentang bidadari. Penulis artikel itu adalah Dwi Maulidar. Baginya, bidadari itu ada, bidadari disediakan oleh Tuhan bagi hambanya yang saleh. Menurutnya, pengingkaran terhadap eksistensi bidadari—yang sebenanrnya tidak eksis itu, begitu pikir aku—adalah pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan sendiri. Ada banyak ayat yang dikutip olehnya dari berbagai sumber kitab suci. Dengan gaya populer, tetapi dengan analisis yang tajam, tidak heran jika artikel itu mendapat banyak dukungan. Buktinya, besok dua artikel tentang bidadari secara bersamaan dimuat di koran tersebut. Hebatnya dua tokoh agama yang menulis dan sama-sama mendukung pendapat Dwi Maulidar dan tentu saja membantai habis pendapat aku.
Masih pada bulan Agustus 2010. Ketika polemik tentang ada-tidaknya bidadari menjadi semakin ramai, aku—si pemicu polemik itu—justru terkapar di sebuah rumah sakit. Tak ada satu artikel pun yang aku buat untuk menanggapi berbagai pendapat baik yang mendukung maupun yang menentang pendapat aku. Demam tinggi pada suatu sore menyerangku. Suhu tubuhku 39 derajat celcius! Ya, sangat panas! Aku terbaring di Kamar 301 sendiri tanpa penunggu. Kadang-kadang aku mengingau. Aku menyebut-nyebut nama Dwi Maulidar. Bahkan, kadang-kadang aku teriakkan nama itu hingga perawat-perawat berlarian ke kamar aku.
Satu sore saat jam besuk tiba, seorang perawat mengetuk pintu kamar aku.
“Bapak, ada tamunya. Cantik banget tamunya,” kata perawat itu mencoba ramah pada aku. Perawat itu masuk diikuti seseorang di belakangnya.
Ketika aku menatap ke arah tamu itu, aku pun terperanjat.
“Dwi Maulidar…!” kata aku setengah berteriak.
Yang kupanggil malahan tersenyum. Kamar aku pun langsung berubah menjadi harum. Bau harum yang aku kenali saat aku pertama kali bertemu dengannya.
“Maaf, aku baru bisa menjenguk Anda hari ini. Baru hari ini aku tidak ada kegiatan,” katanya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Bapak, aku tinggal ya,” kata perawat, yang terus pergi meninggalkan kami berdua.
“Mengapa Anda menjengukku?” tanya aku pada akhirnya.
“Sebab, Anda sakit karena aku,” jawabnnya, “benar, bukan?”
Aku terdiam. Mungkin juga, pikirku.
“Aku ingin Anda cepat sembuh agar Anda bisa menyiapkan makalah untuk seminar internasional bulan depan. Aku meminta panitia menghadirkan Anda sebagai pihak yang berseberangan dengan aku. Aku ingin Anda bisa mengkaji lebih ilmiah pendapat Anda tentang ketiadaan bidadari. Aku pun sudah menyiapkan makalah dengan baik, tentu saja makalah yang mengkaji eksistensi bidadari,” terangnya, lalu dia duduk di kursi di samping tempat tidurku.
Saat aku mendengarkan penjelasannya, tubuh aku tiba-tiba terasa kian menggigil.
“Aku pun datang membawa obat untuk Anda,” katanya, “demam Anda kian tinggi. Semoga obat ini akan menyembuhkan Anda secepatnya.”
Lantas, sangat tiba-tiba tanpa bisa aku tolak, dia pun mencium bibirku, melumatnya…… Sebuah hawa panas menjalari tubuhku. Terasa aku terbang melayang-layang. Tubuh aku terasa nyaman, tak lagi aku rasakan demam.
“Pak…! Pak…! Bangun! Bapak harus minum obat sekarang,” suara seorang perawat membangunkanku.

Lanjut ke Taman Para Bidadari 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar