Rabu, 08 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 5


 (4)
Empat hari tiga malam aku menjadi tahanan di kantor polisi. Pada hari keempat, pukul 13.00, aku dibebaskan dengan sedikit penjelasan saja dari salah seorang polisi, “Dwi Maulidar sudah ditemukan.” Hanya kalimat itu yang kurang lebih mengurangi tanda tanyaku mengapa aku dibebaskan. Aku tak ingin bertanya lebih jauh, lagi pula aku sudah terlalu kangen dengan rumahku. Dengan gembira dan menahan kelelahan baik fisik maupun psikis, aku kembali ke rumahku sore itu, rumah kecil di pinggiran ibukota.

Menikmati teh tawar hangat di sore hari memang kebiasaanku. Sore seperti ini aku pun biasa menyaksikan berita di televisi. Dan, jujur saja hari ini aku sengaja ingin tahu berita tentang Dwi Maulidar. Setelah berkali-kali ganti chanel, akhirnya berita tentang Dwi Maulidar pun muncul di stasiun televisi swasta, sebagai berita utama.
Dalam berita itu dikabarkan bahwa Dwi Maulidar tidak diculik. Begitu penjelasan seorang petinggi polisi yang dijadikan narasumber berita tersebut. Tetapi, dia sengaja pergi meninggalkan acara seminar sebab ada urusan yang sangat penting yang harus diselesaikan oleh dirinya sendiri, tanpa bisa diwakilkan oleh orang lain. Sebab terburu-buru hingga handphone-nya terjatuh dan hilang. Sebab itu, panitia seminar tidak bisa menghubunginya dan dia pun tak bisa memberitahukannya kepada panitia seminar.  Anehnya, berita tersebut tidak sekali pun menayangkan gambar Dwi Maulidar. Dari awal sampai akhir, petinggi polisi itulah yang terus-menerus muncul gambarnya. Aku tiba-tiba sangat terkejut ketika petinggi polisi itu mengatakan bahwa  kejelasan dan kepastian tentang keberadaan Dwi Maulidar baru diketahui oleh polisi pukul 15.00 hari ini. Padahal, aku dibebaskan tadi siang pukul 13.00 dengan alasan Dwi Maulidar sudah ditemukan.  Ada selisih dua jam, apakah petinggi itu salah ucap?
Ya, sudahlah, lupakan saja keganjilan itu. Aku tak mau ambil pusing lagi. Tokh, kasus itu sudah selesai dan aku sudah dibebaskan. Aku gembira Dwi Maulidar selamat, dan gembira pula sebab aku tidak lagi dituduh sebagai penculiknya. Lega rasanya hatiku ini.
Malam mulai merangkak. Aku masuk ke ruang kerjaku. Beberapa buku tebal bersusun di meja kerjaku. Sebuah jurnal internasional yang masih di dalam plastik tergeletak sendiri, terpisah dari buku-buku lain. Komputer PC-ku kunyalakan. Rasanya, aku ingin menulis sedikit pengalamanku di kantor polisi selama beberapa hari. Aku mulai mengetikkan sebuah kata di komputerku. Tapi, setelah beberapa saat merenung kata itu aku delete. Aku merenung lagi, memikirkan kata yang bisa memancing pikiranku mengeluarkan kata-kata lain. Sulit. Tak satu pun kata yang sesuai seleraku saat itu.
Mataku lantas tertuju pada jurnal itu. Aku buka plastiknya. Dan, aku mulai membuka-buka halaman-halaman jurnal itu. Ada beberapa artikel yang kubaca abstraksnya. Bahkan, ada satu artikel yang mulai mencuri perhatianku. Aku membacanya, memberikan catatan di pinggir halamannya, dan tak segan-segan men-stabilo bagian yang sekiranya penting menurutku.
Barulah aku menyadari bahwa ternyata kebebasan itu sangat nikmat. Di tahanan polisi, aku sama sekali tidak bisa berpikir. Tak bisa menuangkan gagasan-gagasanku. Sulit sekali.
Malam ini, rasanya, memberikan ketenangan bagiku. Hmmm, nikmat sekali hidup ini.
Pukul 23.30, di luar bulan sedikit tertutup awan. Seperti memberi sebuah tanda, tanda bagiku. Tanda bahwa ketenangan hatiku akan terusik kembali.
Tiba-tiba, sebuah SMS masuk. SMS dari Dwi Maulidar, ya, nomornya belum aku hapus. Aku pikir SMS itu akan bertanya tentang kondisiku atau semacam SMS ucapan kegembiraan. Namun, ternyata bukan! Saat aku buka SMS itu, aku baca kalimat, “Please, selamatkan aku… “.
Aku sangat terkejut!
Lantas, aku call ke nomornya.
Masuk dan  diangkat.
“Halo…,”kataku.
Tak ada suara jawaban. Hanya terdengar ada suara berisik, tidak jelas suara apa. Terputus! Aku call lagi.  Tapi, handphone-nya sudah tidak aktif!
Aku bingung.
Apa yang semestinya aku lakukan? Apakah aku harus melapor ke polisi? Apakah polisi akan percaya? Bukankah polisi sendiri tidak memercayai kalau nomor handphone Dwi Maulidar aku miliki? Jadi, apa yang harus aku lakukan? Rasanya aku ingin berteriak!
Semalam-malaman aku tidak bisa memejamkan mataku. Wajar jika pagi ini, wajahku tampak kusut. Saat aku menyalakan televisi, aku pun kian terkejut. Selain berita tentang Dwi Maulidar—rupanya itu berita kemarin yang diulang lagi—juga berita pembunuhan di sebuah hotel. Tepatnya, pencurian disertai pembunuhan. Barang yang dicuri adalah laptop dan sejumlah artikel. Barang-barang berharga lainnya tidak ada yang hilang. Kata polisi, mungkin sebab kepergok, maka pencuri menghabisi pemiliknya, yaitu seorang pakar dari luar negeri yang mengikuti seminar internasional.
Yang terbunuh di hotel itu adalah Prof. James Anderson!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar