(4)
Empat hari
tiga malam aku menjadi tahanan di kantor polisi. Pada hari keempat, pukul 13.00,
aku dibebaskan dengan sedikit penjelasan saja dari salah seorang polisi, “Dwi
Maulidar sudah ditemukan.” Hanya kalimat itu yang kurang lebih mengurangi tanda
tanyaku mengapa aku dibebaskan. Aku tak ingin bertanya lebih jauh, lagi pula
aku sudah terlalu kangen dengan rumahku. Dengan gembira dan menahan kelelahan
baik fisik maupun psikis, aku kembali ke rumahku sore itu, rumah kecil di
pinggiran ibukota.
Menikmati
teh tawar hangat di sore hari memang kebiasaanku. Sore seperti ini aku pun
biasa menyaksikan berita di televisi. Dan, jujur saja hari ini aku sengaja
ingin tahu berita tentang Dwi Maulidar. Setelah berkali-kali ganti chanel, akhirnya berita tentang Dwi
Maulidar pun muncul di stasiun televisi swasta, sebagai berita utama.
Dalam
berita itu dikabarkan bahwa Dwi Maulidar tidak diculik. Begitu penjelasan
seorang petinggi polisi yang dijadikan narasumber berita tersebut. Tetapi, dia
sengaja pergi meninggalkan acara seminar sebab ada urusan yang sangat penting
yang harus diselesaikan oleh dirinya sendiri, tanpa bisa diwakilkan oleh orang
lain. Sebab terburu-buru hingga handphone-nya
terjatuh dan hilang. Sebab itu, panitia seminar tidak bisa menghubunginya dan
dia pun tak bisa memberitahukannya kepada panitia seminar. Anehnya, berita tersebut tidak sekali pun
menayangkan gambar Dwi Maulidar. Dari awal sampai akhir, petinggi polisi itulah
yang terus-menerus muncul gambarnya. Aku tiba-tiba sangat terkejut ketika
petinggi polisi itu mengatakan bahwa
kejelasan dan kepastian tentang keberadaan Dwi Maulidar baru diketahui
oleh polisi pukul 15.00 hari ini. Padahal, aku dibebaskan tadi siang pukul
13.00 dengan alasan Dwi Maulidar sudah ditemukan. Ada selisih dua jam, apakah petinggi itu salah
ucap?
Ya,
sudahlah, lupakan saja keganjilan itu. Aku tak mau ambil pusing lagi. Tokh, kasus
itu sudah selesai dan aku sudah dibebaskan. Aku gembira Dwi Maulidar selamat,
dan gembira pula sebab aku tidak lagi dituduh sebagai penculiknya. Lega rasanya
hatiku ini.
Malam
mulai merangkak. Aku masuk ke ruang kerjaku. Beberapa buku tebal bersusun di
meja kerjaku. Sebuah jurnal internasional yang masih di dalam plastik tergeletak
sendiri, terpisah dari buku-buku lain. Komputer PC-ku kunyalakan. Rasanya, aku
ingin menulis sedikit pengalamanku di kantor polisi selama beberapa hari. Aku
mulai mengetikkan sebuah kata di komputerku. Tapi, setelah beberapa saat
merenung kata itu aku delete. Aku
merenung lagi, memikirkan kata yang bisa memancing pikiranku mengeluarkan
kata-kata lain. Sulit. Tak satu pun kata yang sesuai seleraku saat itu.
Mataku
lantas tertuju pada jurnal itu. Aku buka plastiknya. Dan, aku mulai
membuka-buka halaman-halaman jurnal itu. Ada beberapa artikel yang kubaca
abstraksnya. Bahkan, ada satu artikel yang mulai mencuri perhatianku. Aku
membacanya, memberikan catatan di pinggir halamannya, dan tak segan-segan
men-stabilo bagian yang sekiranya penting menurutku.
Barulah
aku menyadari bahwa ternyata kebebasan itu sangat nikmat. Di tahanan polisi,
aku sama sekali tidak bisa berpikir. Tak bisa menuangkan gagasan-gagasanku.
Sulit sekali.
Malam ini,
rasanya, memberikan ketenangan bagiku. Hmmm, nikmat sekali hidup ini.
Pukul
23.30, di luar bulan sedikit tertutup awan. Seperti memberi sebuah tanda, tanda
bagiku. Tanda bahwa ketenangan hatiku akan terusik kembali.
Tiba-tiba,
sebuah SMS masuk. SMS dari Dwi Maulidar, ya, nomornya belum aku hapus. Aku
pikir SMS itu akan bertanya tentang kondisiku atau semacam SMS ucapan kegembiraan.
Namun, ternyata bukan! Saat aku buka SMS itu, aku baca kalimat, “Please,
selamatkan aku… “.
Aku sangat
terkejut!
Lantas,
aku call ke nomornya.
Masuk
dan diangkat.
“Halo…,”kataku.
Tak ada
suara jawaban. Hanya terdengar ada suara berisik, tidak jelas suara apa.
Terputus! Aku call lagi. Tapi, handphone-nya
sudah tidak aktif!
Aku
bingung.
Apa yang
semestinya aku lakukan? Apakah aku harus melapor ke polisi? Apakah polisi akan
percaya? Bukankah polisi sendiri tidak memercayai kalau nomor handphone Dwi Maulidar aku miliki? Jadi,
apa yang harus aku lakukan? Rasanya aku ingin berteriak!
Semalam-malaman
aku tidak bisa memejamkan mataku. Wajar jika pagi ini, wajahku tampak kusut. Saat
aku menyalakan televisi, aku pun kian terkejut. Selain berita tentang Dwi
Maulidar—rupanya itu berita kemarin yang diulang lagi—juga berita pembunuhan di
sebuah hotel. Tepatnya, pencurian disertai pembunuhan. Barang yang dicuri
adalah laptop dan sejumlah artikel. Barang-barang berharga lainnya tidak ada
yang hilang. Kata polisi, mungkin sebab kepergok, maka pencuri menghabisi
pemiliknya, yaitu seorang pakar dari luar negeri yang mengikuti seminar
internasional.
Yang
terbunuh di hotel itu adalah Prof. James Anderson!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar