Selasa, 07 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 1



Awalnya aku tidak memercayai bidadari. Bidadari, bagi aku, hanyalah sebuah mitos, yang dibawa oleh agama untuk membius manusia agar tunduk kepada Tuhan. Konon, bidadari adalah perempuan yang sangat cantik di mana kecantikannya tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata yang tersedia di seluruh bahasa. Bidadari diciptakan Tuhan sebagai hadiah bagi laki-laki saleh. Ya, bagi laki-laki saleh, bukan bagi perempuan saleh. Tuhan tidak menyiapkan hadiah bagi perempuan saleh. Sebab itulah temanku berkata dengan lantang, “Tuhan tidak adil!  Tuhan hanya berpihak kepada laki-laki, tidak berpihak kepada perempuan.”  Pun aku tidak sependapat pula bahwa bidadari adalah hadiah bagi laki-laki saleh. Kesalehan adalah sebuah totalitas manusia beriman memasrahkan seluruh kehidupannya di bawah naungan keridloan Tuhan, tidak sepatutnya sikap itu diiming-imingi hadiah yang berhubungan dengan seksualitas. Dengan sederhana, mungkin bisa aku katakan kesalehan equivalen dengan seks!
Aku ingin tegaskan bidadari adalah sebuah mitos. Itu adalah pendapatku yang tidak bisa diganggu gugat. Sekurang-kurangnya sampai lima bulan lalu.
Satu hari pada bulan September 2011, aku membuka email. Ada ratusan email yang masuk pada hari itu. Aku pikir email-email itu adalah spam. Tetapi, keanehan pun terlihat. Email itu dikirim oleh orang yang sama, lalu jeda satu email ke email yang lain 5 menit, ya, semuanya sama 5 menit. Dengan ragu-ragu satu email itu aku buka. Tak ada isinya, cuma ada attachment. Aku buka attachment itu, ternyata gambar sebuah peta dengan judul “Taman Para Bidadari”. Aku tertawa dengan peta tersebut. Aku pikir itu sebuah lelucon. Lelucon yang sangat konyol.
Keesokan harinya aku pun mendapat email lagi. Email yang dikirim dari alamat email yang sama. Jumlahnya tak tanggung-tanggung 250 email. Bedanya sekarang tak ada attachment. Tapi, di email tersebut ada kalimat, “Buktikan! Maka, keyakinan Anda pun pasti berubah!” Gila, keyakinan apa yang akan berubah pada aku? Aku sedikit teriak, kesal terhadap isi email tersebut. Tapi, email itu sudah cukup membuat aku penasaran. Maka, beberapa hari setelah itu, aku mencoba mencari tahu benar atu tidaknya peta Taman Para Bidadari tersebut. Yang pertama aku lakukan adalah mencari kota atau daerah di mana Taman Para Bidadari itu berada. Dan ternyata sangat sulit. Beberapa antropolog kenalan aku ketika aku tanyakan tentang peta tersebut menggeleng atau menjawab dengan sedikit mencemoohku, “Tak mungkin ada taman seperti itu di bumi ini!”
Satu malam saat keisengan atau mungkin juga ke-frustasi-an mulai menyergap, aku membuka emailku. Ternyata ada sebuah email yang masuk. Email itu aku buka. Luar biasa! Email itu menjelaskan di mana kira-kira letak Taman Para Bidadari tersebut berada. Menurut email tersebut, Taman Para Bidadari terletak di sebuah pulau di mana sebuah kerajaan besar Hindu pernah berdiri. Bagiku, informasi itu sudah sangat berarti. Informasi yang bisa mengobati kepenasaranku tentang tempat tersebut.
Sebulan kemudian aku berangkat ke pulau tersebut. Setelah hampir 16 jam di perjalanan, sampailah aku di sebuah “taman” yang konon menurut peta, taman itu adalah Taman Para Bidadari. Taman itu dikelilingi pagar besi tinggi, pagar itu sangat panjang sehingga terlihat mengular ke arah bukit. Pintu gerbangnya terbuka. Sebuah sosok tampak di depanku.  Seorang perempuan. Ada wangi bunga semerbak tercium olehku. Tidak kukenali jenis bunga apa.
“Silakan masuk,” kata perempuan itu, “kami sudah lama menunggu Anda.”
Aku kurang memperhatikan perempuan itu. Tapi, begitu jarak kami kian dekat, perempuan itu terlihat sangat cantik. Dan, bau harum tadi kian jelas tercium.”Oh, ternyata wangi perempuan ini,” begitu pikirku.
“Kami yakin Anda akan datang ke sini,” kata perempuan itu.
“Maaf, maksud Anda?” tanyaku.
“Iya, aku yang mengirim email tentang taman ini kepada Anda. Aku mengirim pula peta taman ini,” jelas perempuan itu.
“Mengapa Anda memilih aku?” tanyaku.
Perempuan itu tidak langsung menjawabku. Diajaknya aku berjalan menyelusuri jalan yang tertata rapi. Banyak jenis bunga yang tidak ku kenali di sana. Bahkan, banyak pula keharuman yang tidak pernah tercium olehku.
“Bukan kami yang memilih Anda,” kata perempuan itu, “tapi, Andalah yang ingin kami pilih.”
Aku tidak paham atas perkataan itu. Tiba-tiba, kami berhenti di sebuah bangunan yang mirip dengan sebuah pendopo.
“Ayo, lihat ke sini,” ajak perempuan itu. Aku pun mengikutinya. Di dinding bangunan yang mirip dengan pendopo itu, ada sebuah lukisan perempuan. Tiba-tiba, mata aku nanar menatap lukisan itu dan seketika tanpa sadar yang menyebut sebuah nama, “Dwi Maulidar….”
“Ya, benar itu namanya,” kata perempuan itu menangkap perubahan suasana hatiku. Dan, tiba-tiba bunga-bunga di sana bermekaran dan menyebarkan harumnya. Aku pun merasa pusing, lalu terasa gelap di sekitarku.

Lanjut ke: Taman Para Bidadari 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar