Awalnya aku
tidak memercayai bidadari. Bidadari, bagi aku, hanyalah sebuah mitos, yang
dibawa oleh agama untuk membius manusia agar tunduk kepada Tuhan. Konon,
bidadari adalah perempuan yang sangat cantik di mana kecantikannya tidak dapat
dilukiskan oleh kata-kata yang tersedia di seluruh bahasa. Bidadari diciptakan
Tuhan sebagai hadiah bagi laki-laki saleh. Ya, bagi laki-laki saleh, bukan bagi
perempuan saleh. Tuhan tidak menyiapkan hadiah bagi perempuan saleh. Sebab
itulah temanku berkata dengan lantang, “Tuhan tidak adil! Tuhan hanya berpihak kepada laki-laki, tidak
berpihak kepada perempuan.” Pun aku
tidak sependapat pula bahwa bidadari adalah hadiah bagi laki-laki saleh.
Kesalehan adalah sebuah totalitas manusia beriman memasrahkan seluruh
kehidupannya di bawah naungan keridloan Tuhan, tidak sepatutnya sikap itu
diiming-imingi hadiah yang berhubungan dengan seksualitas. Dengan sederhana,
mungkin bisa aku katakan kesalehan equivalen dengan seks!
Aku ingin
tegaskan bidadari adalah sebuah mitos. Itu adalah pendapatku yang tidak bisa
diganggu gugat. Sekurang-kurangnya sampai lima bulan lalu.
Satu hari
pada bulan September 2011, aku membuka email. Ada ratusan email yang masuk pada
hari itu. Aku pikir email-email itu adalah spam.
Tetapi, keanehan pun terlihat. Email itu dikirim oleh orang yang sama, lalu
jeda satu email ke email yang lain 5 menit, ya, semuanya sama 5 menit. Dengan
ragu-ragu satu email itu aku buka. Tak ada isinya, cuma ada attachment. Aku buka attachment itu,
ternyata gambar sebuah peta dengan judul “Taman Para Bidadari”. Aku tertawa
dengan peta tersebut. Aku pikir itu sebuah lelucon. Lelucon yang sangat konyol.
Keesokan
harinya aku pun mendapat email lagi. Email yang dikirim dari alamat email yang
sama. Jumlahnya tak tanggung-tanggung 250 email. Bedanya sekarang tak ada attachment. Tapi, di email tersebut ada
kalimat, “Buktikan! Maka, keyakinan Anda pun pasti berubah!” Gila, keyakinan
apa yang akan berubah pada aku? Aku sedikit teriak, kesal terhadap isi email
tersebut. Tapi, email itu sudah cukup membuat aku penasaran. Maka, beberapa
hari setelah itu, aku mencoba mencari tahu benar atu tidaknya peta Taman Para
Bidadari tersebut. Yang pertama aku lakukan adalah mencari kota atau daerah di
mana Taman Para Bidadari itu berada. Dan ternyata sangat sulit. Beberapa
antropolog kenalan aku ketika aku tanyakan tentang peta tersebut menggeleng
atau menjawab dengan sedikit mencemoohku, “Tak mungkin ada taman seperti itu di
bumi ini!”
Satu malam
saat keisengan atau mungkin juga ke-frustasi-an mulai menyergap, aku membuka
emailku. Ternyata ada sebuah email yang masuk. Email itu aku buka. Luar biasa!
Email itu menjelaskan di mana kira-kira letak Taman Para Bidadari tersebut
berada. Menurut email tersebut, Taman Para Bidadari terletak di sebuah pulau di
mana sebuah kerajaan besar Hindu pernah berdiri. Bagiku, informasi itu sudah
sangat berarti. Informasi yang bisa mengobati kepenasaranku tentang tempat
tersebut.
Sebulan
kemudian aku berangkat ke pulau tersebut. Setelah hampir 16 jam di perjalanan,
sampailah aku di sebuah “taman” yang konon menurut peta, taman itu adalah Taman
Para Bidadari. Taman itu dikelilingi pagar besi tinggi, pagar itu sangat
panjang sehingga terlihat mengular ke arah bukit. Pintu gerbangnya terbuka.
Sebuah sosok tampak di depanku. Seorang
perempuan. Ada wangi bunga semerbak tercium olehku. Tidak kukenali jenis bunga
apa.
“Silakan
masuk,” kata perempuan itu, “kami sudah lama menunggu Anda.”
Aku kurang
memperhatikan perempuan itu. Tapi, begitu jarak kami kian dekat, perempuan itu
terlihat sangat cantik. Dan, bau harum tadi kian jelas tercium.”Oh, ternyata
wangi perempuan ini,” begitu pikirku.
“Kami
yakin Anda akan datang ke sini,” kata perempuan itu.
“Maaf,
maksud Anda?” tanyaku.
“Iya, aku
yang mengirim email tentang taman ini kepada Anda. Aku mengirim pula peta taman
ini,” jelas perempuan itu.
“Mengapa
Anda memilih aku?” tanyaku.
Perempuan
itu tidak langsung menjawabku. Diajaknya aku berjalan menyelusuri jalan yang
tertata rapi. Banyak jenis bunga yang tidak ku kenali di sana. Bahkan, banyak
pula keharuman yang tidak pernah tercium olehku.
“Bukan kami
yang memilih Anda,” kata perempuan itu, “tapi, Andalah yang ingin kami pilih.”
Aku tidak
paham atas perkataan itu. Tiba-tiba, kami berhenti di sebuah bangunan yang mirip
dengan sebuah pendopo.
“Ayo,
lihat ke sini,” ajak perempuan itu. Aku pun mengikutinya. Di dinding bangunan
yang mirip dengan pendopo itu, ada sebuah lukisan perempuan. Tiba-tiba, mata aku
nanar menatap lukisan itu dan seketika tanpa sadar yang menyebut sebuah nama,
“Dwi Maulidar….”
“Ya, benar
itu namanya,” kata perempuan itu menangkap perubahan suasana hatiku. Dan,
tiba-tiba bunga-bunga di sana bermekaran dan menyebarkan harumnya. Aku pun merasa
pusing, lalu terasa gelap di sekitarku.
Lanjut ke: Taman Para Bidadari 2
Lanjut ke: Taman Para Bidadari 2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar