(3)
Esoknya
berita hilangnya Dwi Maulidar menjadi headline
beberapa surat kabar besar. Bahkan, satu surat kabar menjadikannya sebagai
tajuk dengan ulasan yang menurutku mengada-ngada. Dikatakannya bahwa Dwi
Maulidar diculik oleh lawan berpolemiknya selama ini. Jelaslah mengada-ngada
sebab lawan berpolemik Dwi Maulidar adalah aku! Bukankah aku sendiri saat
kejadian berada di gedung tempat seminar akan berlangsung? Beberapa televisi pun
menempatkan berita itu dalam berita investigasi, lengkap dengan ulasan
narasumber yang ahli dalam kriminologi. Berbagai spekulasi hilangnya Dwi
Maulidar beredar di masyarakat.
Satu sore seminggu
setelah Dwi Maulidar hilang, aku sedang membaca buku Poetry, Languange, Thought tulisan Martin Hidegger ketika pintu
rumahku diketuk. Saat pintu dibuka, dua orang polisi berdiri di depanku. Mereka
membawa surat penangkapan dan memintaku ikut dengan mereka ke kantor polisi.
Aku
ditangkap atas tuduhan menculik Dwi Maulidar!
Tentu saja
aku terkejut. Malahan, aku lebih terkejut lagi ketika sampai di kantor polisi,
Prof. James Anderson pun ditangkap. Prof. James Anderson, sama sepertiku,
adalah salah seorang yang dijadwalkan menjadi pembicara dalam seminar internasional
tentang bidadari itu. Ia pun seorang pakar tentang dongeng dan tidak mempercayai adanya bidadari.
“I don’t understand,” kata Prof. James
Anderson ketika bertemu denganku.
Aku
katakan kepada Prof. James Anderson bahwa aku pun tak mengerti kenapa aku
ditangkap, tapi jangan khawatir polisi-polisi itu akan bertindak profesional.
Jelas saja ucapanku sekadar basa-basi untuk menyenangkan tamu asing, sebab sebenarnya
ditangkapnya aku dan Prof. James Anderson adalah bukti ketidakprofesionalan
polisi.
Kami diperiksa
di ruangan yang berbeda.
Polisi
yang memeriksaku mengatakan bahwa aku adalah tersangka utama dalam hilangnya
Dwi Maulidar. Polisi itu mengatakan bahwa isi artikel-artikelku selalu
berlawanan dengan isi artikel-artikel yang ditulis oleh Dwi Maulidar.
“Maaf,
saya hanya menulis satu artikel tentang bidadari yang ditanggapi oleh Dwi
Maulidar,” sanggahku kepada polisi itu.
“Satu? Ah,
Bapak jangan berbohong…,” kata polisi itu.
“Benar,
hanya satu artikel… Ketika polemik berlangsung, saya justru dirawat di rumah
sakit,” jelasku.
Lalu,
polisi itu meletakkan sebuah bundel di atas meja.
“Coba
Bapak lihat kliping koran itu. Ada sekitar sepuluh artikel yang ditulis Bapak
dan juga ada sekitar sepuluh artikel Dwi Maulidar. Kliping koran itu buktinya
bahwa Bapak menulis bukan satu artikel,” jelas polisi itu.
Aku
membuka kliping koran tersebut.
Aku
terkejut bukan main! Ada sepuluh artikel yang mengatasnamakan aku sebagai
penulisnya, padahal seingatku bahwa hanya satu artikel yang saya tulis. Aku
gemetaran melihat kliping-kliping koran itu. Tampaknya, ada seseorang yang
menjiplak gaya kepenulisanku, menggunakan alur berpikirku, dan tentu saja ada
orang lain yang berpura-pura menjadi diriku!
“Tapi, ini
bukan saya yang menulisnya,” kataku.
Polisi itu
hanya tersenyum. Lantas, ia pun mengeluarkan sebuah bundel lagi.
“Coba
Bapak perhatikan lagi kliping berita koran yang saya bundel ini,” katanya
sambil menyodorkan sebuah bundelan lagi.
Aku
membuka bundelan tersebut. Aku terkejut! Bundelan itu adalah kliping berita
koran dan wawancara diriku dengan seorang wartawan surat kabar terkemuka. Serangan-seranganku terhadap pendapat yang dilontarkan oleh Dwi
Maulidar. Bahkan, ada fotoku segala.
“Itu bukan
saya… Pada tanggal-tanggal tersebut saya dirawat di rumah sakit,” suaraku terasa
bergetar.
“Bapak
yang berbohong atau surat kabar tersebut yang berbohong…?” sindir polisi
tersebut.
Aku
terdiam.
“Kami pun
sudah mengecek ke rumah sakit yang konon Bapak dirawat di sana. Dan, ternyata
kata pihak rumah sakit, pada tanggal tersebut tidak ada satu pun pasien atas
nama bapak yang dirawat.”
Aku diam
saja, aku sadar bahwa masalah besar mengancamku.
Tiba-tiba,
aku ingat SMS dari Dwi Maulidar. “Pada malam Dwi Maulidar hilang, saya mendapat
SMS dari Dwi Maulidar… Silakan baca isinya,” kataku sambil membuka SMS Dwi
Maulidar di handphone-ku.
Polisi itu
menerima handphone-ku, lalu membaca
SMS itu. Tapi, katanya, “Nomor ini saya tidak yakin nomor handphone Dwi Maulidar. Mungkin, nomor handphone orang lain yang Bapak beri nama dengan nama Dwi Maulidar.
Kami sudah tahu nomor handphone Dwi
Maulidar dari panitia seminar. Seingat saya, nomornya bukan ini,” terang polisi
itu.
“Sungguh..itu
nomornya Dwi Maulidar,” kataku mencoba meyakinkan.
“Kalau
begitu sebentar…Saya mau tanya Prof. James Anderson, siapa tahu dia punya nomor
handphone Dwi Maulidar,” kata polisi itu.
“Iya,
silakan Bapak cocokkan.”
Polisi itu
keluar dari ruangan. Tak lama, dia sudah kembali lagi.
“Nomor handphone Dwi Maulidar yang ada di Prof.
James Anderson berbeda dengan nomor ini,” kata polisi tersebut.
Kalimat
itu sudah cukup membuatku kian terpojok.
“Dan,
Prof. James Anderson sudah kami izinkan pulang, tapi Bapak tampaknya harus
menginap di sini dulu…”
Aku hanya
bisa pasrah. Suara polisi itu terdengar sayup-sayup. Hatiku sangat gundah. Ada
banyak pertanyaan di pikiranku. Aneh, ada orang yang berpura-pura menjadi
diriku, orang tersebut sangat luar biasa sehingga dapat mengelabui surat kabar
terkemuka di negeri ini. Hebatnya lagi, orang tersebut pun mampu menerobos
sistem administrasi sebuah rumah sakit hingga data tentangku tidak ada di rumah
sakit itu.
Siapakah
orang itu? Apa kaitannya dengan Dwi Maulidar? Ah, aku tidak bisa berpikir,
makin aku pikirkan makin membuat goyah kewarasanku.
Akhirnya,
aku menikmati ruang tahanan di kantor polisi tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar