Rabu, 08 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 4





(3)
Esoknya berita hilangnya Dwi Maulidar menjadi headline beberapa surat kabar besar. Bahkan, satu surat kabar menjadikannya sebagai tajuk dengan ulasan yang menurutku mengada-ngada. Dikatakannya bahwa Dwi Maulidar diculik oleh lawan berpolemiknya selama ini. Jelaslah mengada-ngada sebab lawan berpolemik Dwi Maulidar adalah aku! Bukankah aku sendiri saat kejadian berada di gedung tempat seminar akan berlangsung? Beberapa televisi pun menempatkan berita itu dalam berita investigasi, lengkap dengan ulasan narasumber yang ahli dalam kriminologi. Berbagai spekulasi hilangnya Dwi Maulidar beredar di masyarakat.
Satu sore seminggu setelah Dwi Maulidar hilang, aku sedang membaca buku Poetry, Languange, Thought tulisan Martin Hidegger ketika pintu rumahku diketuk. Saat pintu dibuka, dua orang polisi berdiri di depanku. Mereka membawa surat penangkapan dan memintaku ikut dengan mereka ke kantor polisi.
Aku ditangkap atas tuduhan menculik Dwi Maulidar!
Tentu saja aku terkejut. Malahan, aku lebih terkejut lagi ketika sampai di kantor polisi, Prof. James Anderson pun ditangkap. Prof. James Anderson, sama sepertiku, adalah salah seorang yang dijadwalkan menjadi pembicara dalam seminar internasional tentang bidadari itu. Ia pun seorang pakar tentang dongeng  dan tidak mempercayai adanya bidadari.
I don’t understand,” kata Prof. James Anderson ketika bertemu denganku.
Aku katakan kepada Prof. James Anderson bahwa aku pun tak mengerti kenapa aku ditangkap, tapi jangan khawatir polisi-polisi itu akan bertindak profesional. Jelas saja ucapanku sekadar basa-basi untuk menyenangkan tamu asing, sebab sebenarnya ditangkapnya aku dan Prof. James Anderson adalah bukti ketidakprofesionalan polisi.
Kami diperiksa di ruangan yang berbeda.
Polisi yang memeriksaku mengatakan bahwa aku adalah tersangka utama dalam hilangnya Dwi Maulidar. Polisi itu mengatakan bahwa isi artikel-artikelku selalu berlawanan dengan isi artikel-artikel yang ditulis oleh Dwi Maulidar.
“Maaf, saya hanya menulis satu artikel tentang bidadari yang ditanggapi oleh Dwi Maulidar,” sanggahku kepada polisi itu.
“Satu? Ah, Bapak jangan berbohong…,” kata polisi itu.
“Benar, hanya satu artikel… Ketika polemik berlangsung, saya justru dirawat di rumah sakit,” jelasku.
Lalu, polisi itu meletakkan sebuah bundel di atas meja.
“Coba Bapak lihat kliping koran itu. Ada sekitar sepuluh artikel yang ditulis Bapak dan juga ada sekitar sepuluh artikel Dwi Maulidar. Kliping koran itu buktinya bahwa Bapak menulis bukan satu artikel,” jelas polisi itu.
Aku membuka kliping koran tersebut.
Aku terkejut bukan main! Ada sepuluh artikel yang mengatasnamakan aku sebagai penulisnya, padahal seingatku bahwa hanya satu artikel yang saya tulis. Aku gemetaran melihat kliping-kliping koran itu. Tampaknya, ada seseorang yang menjiplak gaya kepenulisanku, menggunakan alur berpikirku, dan tentu saja ada orang lain yang berpura-pura menjadi diriku!
“Tapi, ini bukan saya yang menulisnya,” kataku.
Polisi itu hanya tersenyum. Lantas, ia pun mengeluarkan sebuah bundel lagi.
“Coba Bapak perhatikan lagi kliping berita koran yang saya bundel ini,” katanya sambil menyodorkan sebuah bundelan lagi.
Aku membuka bundelan tersebut. Aku terkejut! Bundelan itu adalah kliping berita koran dan wawancara diriku dengan seorang wartawan surat kabar terkemuka. Serangan-seranganku terhadap pendapat yang dilontarkan oleh Dwi Maulidar. Bahkan, ada fotoku segala.
“Itu bukan saya… Pada tanggal-tanggal tersebut saya dirawat di rumah sakit,” suaraku terasa bergetar.
“Bapak yang berbohong atau surat kabar tersebut yang berbohong…?” sindir polisi tersebut.
Aku terdiam.
“Kami pun sudah mengecek ke rumah sakit yang konon Bapak dirawat di sana. Dan, ternyata kata pihak rumah sakit, pada tanggal tersebut tidak ada satu pun pasien atas nama bapak yang dirawat.”
Aku diam saja, aku sadar bahwa masalah besar mengancamku.
Tiba-tiba, aku ingat SMS dari Dwi Maulidar. “Pada malam Dwi Maulidar hilang, saya mendapat SMS dari Dwi Maulidar… Silakan baca isinya,” kataku sambil membuka SMS Dwi Maulidar di handphone-ku.
Polisi itu menerima handphone-ku, lalu membaca SMS itu. Tapi, katanya, “Nomor ini saya tidak yakin nomor handphone Dwi Maulidar. Mungkin, nomor handphone orang lain yang Bapak beri nama dengan nama Dwi Maulidar. Kami sudah tahu nomor handphone Dwi Maulidar dari panitia seminar. Seingat saya, nomornya bukan ini,” terang polisi itu.
“Sungguh..itu nomornya Dwi Maulidar,” kataku mencoba meyakinkan.
“Kalau begitu sebentar…Saya mau tanya Prof. James Anderson, siapa tahu dia punya nomor handphone Dwi Maulidar,” kata polisi itu.
“Iya, silakan Bapak cocokkan.”
Polisi itu keluar dari ruangan. Tak lama, dia sudah kembali lagi.
“Nomor handphone Dwi Maulidar yang ada di Prof. James Anderson berbeda dengan nomor ini,” kata polisi tersebut.
Kalimat itu sudah cukup membuatku kian terpojok.
“Dan, Prof. James Anderson sudah kami izinkan pulang, tapi Bapak tampaknya harus menginap di sini dulu…”
Aku hanya bisa pasrah. Suara polisi itu terdengar sayup-sayup. Hatiku sangat gundah. Ada banyak pertanyaan di pikiranku. Aneh, ada orang yang berpura-pura menjadi diriku, orang tersebut sangat luar biasa sehingga dapat mengelabui surat kabar terkemuka di negeri ini. Hebatnya lagi, orang tersebut pun mampu menerobos sistem administrasi sebuah rumah sakit hingga data tentangku tidak ada di rumah sakit itu.
Siapakah orang itu? Apa kaitannya dengan Dwi Maulidar? Ah, aku tidak bisa berpikir, makin aku pikirkan makin membuat goyah kewarasanku.
Akhirnya, aku menikmati ruang tahanan di kantor polisi tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar