(2)
Hari
pertama aku masuk kantor setelah sakit, aku sudah dikejutkan sebuah undangan
dan Term of Reference Seminar Internasional
Cerita Bidadari dalam Khazanah Sastra Dunia yang tergeletak di atas meja
kerjaku. Aku membaca ToR itu dan di sana tercantum nama aku sebagai pembicara,
yang dipanel dengan Dwi Maulidar. Jelas itu membuat aku terkejut. Selama aku
sakit, menurut kesadaranku, tidak pernah ada satu pun panitia yang menghubungiku.
Handphone aku bergetar, sebuah nomor
yang tidak ada di phonebook terlihat
di layar. Aku pun mengangkatnya, “Halo…”
“Hai,
sudah sembuh ya? Sudah di kantor ‘kan?” suara perempuan terdengar. Seperti aku
kenali suara itu.
“Maaf…ini
siapa ya?” tanyaku.
“Aku…Dwi
Maulidar…,” jawabnya.
“Iya, aku
sudah baik. Dan, betul ini hari pertama aku kerja setelah sakit. Dan juga, di
hari ini aku sangat terkejut sebab aku diminta menjadi pembicara di
sebuah….,”kata-kataku terputus sebab Dwi Maulidar memotongnya.
“Seminar internasional
tentang Bidadari dan terkejutnya Anda sebab dipanel denganku, bukan?” katanya
dengan nada yang sangat tenang.
Aku
terdiam seolah-olah membenarkan apa yang dikatakannya.
“Jadi,
Anda siap, bukan?” tanyanya seakan menantangku.
“Aku? Ya, aku
siap. Satu atau dua minggu ini makalah aku akan siap,” jawabku tegas menyembunyikan
keraguanku sendiri.
“Syukurlah,
sebab selain kita, ada dua orang lagi panelis. Mereka profesor dari universitas
luar negeri. Baiklah… dan jika butuh bantuan, Anda dapat mengontakku. Tolong
di-save ini nomorku.”
Hah,
mengontakmu?! Untuk apa? Begitu pikirku.
Segera
saja aku mulai bekerja menyiapkan makalah untuk seminar tersebut. Beberapa
perpustakaan di universitas-universitas besar aku sambangi. Beberapa teman yang
bergelut dalam tradisi sastra dan kesenian pun aku kontak. Aku tidak ingin di
seminar tersebut aku diolok-olok pembicara lain dan juga peserta. Aku pun
meng-email beberapa pakar luar negeri yang paham tentang cerita bidadari. Dan,
aku tak segan untuk berdiskusi, bahkan juga aku memberikan tanggapan balik.
Dalam sepuluh hari aku bekerja, sebuah makalah setebal 25 halaman sudah siap
untuk dipresentasikan.
Selama
menyiapkan makalah itu, beberapa kali Dwi Maulidar meneleponku, menanyakan
perkembangan makalah yang aku buat. Kadang aku marah padanya sebab ia bertanya
padaku dini hari saat aku baru saja akan merebahkan tubuh. Tapi, kadang aku
sangat ingin mendengar suaranya ketika kejenuhan atau penat mulai menyiksaku.
Aku sendiri tidak paham terhadap apa yang terjadi pada diriku mungkin benci
atau mungkin sebuah rasa lain padanya. Satu malam tanpa bisa tidur aku mulai
memikirkannya. Apakah benar dia bidadari seperti yang pernah dikatakannya di
café itu? Ah, tidak mungkin. Tidak, tidak mungkin ada bidadari. Bukankah dia
sangat cantik? Tapi, kata siapa? Bukankah hanya aku yang pernah melihatnya? Di
café itu ketika dia pertama kali muncul, aku tidak tahu apakah yang hadir di
café saat itu juga melihatnya? Di rumah
sakit? Bukankah itu hanya mimpi? Itu nyata, buktinya aku dan dia jadi pembicara
di sebuah seminar seperti dikatakannya di rumah sakit? Nyata atau mimpi ya? Akhirnya
sampai pagi, aku sama sekali tidak bisa tertidur.
Jakarta
Hilton Convention Center, September 2010, pukul 19.00 penuh disesaki orang.
Padahal, acara malam itu hanya sebuah seminar. Meskipun seminar itu bertajuk seminar internasional,
tetapi memang aneh jika yang hadir sedemikian banyak seperti hendak menonton
konser musik. Bagiku, jelas ini sebuah prestasi yang luar biasa dari panitia,
yang telah mempromosikan acara ini sedemikian rupa sehingga membuat banyak
orang penasaran ingin menyaksikan seminar itu. Apa yang “dijual” panitia
awalnya aku tidak tahu atau tepatnya tidak paham hingga aku melihat sebuah
poster besar yang terpampang di depan gedung itu. Ya, yang dijual adalah “Sang
Bidadari”, yaitu Dwi Maulidar. Potret besarnya di poster itu sudah cukup
membuat semua mata terkagum-kagum.
Acara
seminar sendiri akan dimulai pukul 19.30. Aku sudah hadir sejak magrib tadi.
Beberapa kali aku mencoba menenangkan diri meskipun aku sering jadi pembicara
dalam berbagai seminar, tetapi aku merasakan sesuatu yang lain, debaran jantung
terasa berpacu lebih cepat. Aku sadar di seminar itu aku bukan bintangnya,
bahkan justru mungkin aku menjadi “terdakwa”.
Pukul
19.15, saya dan dua pembicara luar sudah duduk di tempat yang disiapkan panitia.
Dwi Maulidar belum tampak. Padahal, dialah yang ditunggu-tunggu oleh semua yang
hadir. Ketika saya asyik berbincang-bincang dengan salah satu profesor, panitia
menemui kami.
“Bapak-bapak,
mohon maaf, ada yang punya nomor handphone
Bu Dwi Maulidar? Kami sudah menghubungi beliau dengan nomor handphone yang ada
pada kami, tetapi tidak aktif. Kami heran kok beliau belum hadir juga,”
katanya.
“Saya
punya,” kataku. Lalu, aku cari nomor handphone dan aku berikan pada panitia
itu.
“Terima
kasih, Pak,” ucapnya. Dicobanya menelpon nomor tersebut. “Aduh, tidak aktif
juga.”
Lantas,
panitia itu meninggalkan kami, tampak ada kepanikan di wajahnya. Aku lihat dia
menemui panitia-panitia lain, tak lama beberapa panitia bergegas keluar
ruangan.
Pukul
19.30, acara seminar seharusnya dimulai. Tapi, panelis belum lengkap, Dwi
Maulidar belum hadir. Panitia-panitia tampak sibuk ke sana-kemari. Seperti ada
kepanikan. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Yang hadir pun
mulai gelisah, bahkan ada satu-dua orang yang berteriak, “Ayo dong, dimulai
acaranya!”
Pukul
19.45, Ketua Panitia tampil ke depan, seperti hendak mengumumkan sesuatu.
“Mohon perhatiannya kepada hadirin… Sekali lagi, mohon perhatiannya….Kami atas
nama panitia ingin mengumumkan bahwa acara seminar ini dengan terpaksa
dibatalkan sebab pembicara utama kita, yaitu Ibu Dwi Maulidar, hilang dari
kamar hotelnya…Kami sudah melaporkannya kepada pihak kepolisian. Sebab itu,
sekali lagi kami mohon maaf atas kejadian yang sama-sama tidak kita inginkan
ini. Dan, semoga Ibu Dwi Maulidar bisa ditemukan dalam keadaan tak kurang
sesuatu apa pun…”
Setelah
Ketua Panitia selesai mengumumkan itu, suasana ruangan itu semakin gaduh. Agak
kacau. Aku dan para panelis lain saling berpandangan. Aku jelaskan kepada kedua
panelis itu tentang situasi yang terjadi.
Tiba-tiba,
handphone-ku bergetar, sebuah SMS
masuk.
SMS dari
Dwi Maulidar! Bunyinya, “Tolonglah aku…”
Dengan
panik dan jantung berdebar kencang, aku segera menghubungi ke nomor itu. Tapi,
hanya ada suara mesin yang kudengar, ”Nomor yang Anda hubungi tidak aktif atau
di luar jangkauan…..”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar