Rabu, 08 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 3




(2)
Hari pertama aku masuk kantor setelah sakit, aku sudah dikejutkan sebuah undangan dan Term of Reference Seminar Internasional Cerita Bidadari dalam Khazanah Sastra Dunia yang tergeletak di atas meja kerjaku. Aku membaca ToR itu dan di sana tercantum nama aku sebagai pembicara, yang dipanel dengan Dwi Maulidar. Jelas itu membuat aku terkejut. Selama aku sakit, menurut kesadaranku, tidak pernah ada satu pun panitia yang menghubungiku.
Handphone aku bergetar, sebuah nomor yang tidak ada di phonebook terlihat di layar. Aku pun mengangkatnya, “Halo…”
“Hai, sudah sembuh ya? Sudah di kantor ‘kan?” suara perempuan terdengar. Seperti aku kenali suara itu.
“Maaf…ini siapa ya?” tanyaku.
“Aku…Dwi Maulidar…,” jawabnya.
“Iya, aku sudah baik. Dan, betul ini hari pertama aku kerja setelah sakit. Dan juga, di hari ini aku sangat terkejut sebab aku diminta menjadi pembicara di sebuah….,”kata-kataku terputus sebab Dwi Maulidar memotongnya.
“Seminar internasional tentang Bidadari dan terkejutnya Anda sebab dipanel denganku, bukan?” katanya dengan nada yang sangat tenang.
Aku terdiam seolah-olah membenarkan apa yang dikatakannya.
“Jadi, Anda siap, bukan?” tanyanya seakan menantangku.
“Aku? Ya, aku siap. Satu atau dua minggu ini makalah aku akan siap,” jawabku tegas menyembunyikan keraguanku sendiri.
“Syukurlah, sebab selain kita, ada dua orang lagi panelis. Mereka profesor dari universitas luar negeri. Baiklah… dan jika butuh bantuan, Anda dapat mengontakku. Tolong di-save ini nomorku.”
Hah, mengontakmu?! Untuk apa? Begitu pikirku.
Segera saja aku mulai bekerja menyiapkan makalah untuk seminar tersebut. Beberapa perpustakaan di universitas-universitas besar aku sambangi. Beberapa teman yang bergelut dalam tradisi sastra dan kesenian pun aku kontak. Aku tidak ingin di seminar tersebut aku diolok-olok pembicara lain dan juga peserta. Aku pun meng-email beberapa pakar luar negeri yang paham tentang cerita bidadari. Dan, aku tak segan untuk berdiskusi, bahkan juga aku memberikan tanggapan balik. Dalam sepuluh hari aku bekerja, sebuah makalah setebal 25 halaman sudah siap untuk dipresentasikan.
Selama menyiapkan makalah itu, beberapa kali Dwi Maulidar meneleponku, menanyakan perkembangan makalah yang aku buat. Kadang aku marah padanya sebab ia bertanya padaku dini hari saat aku baru saja akan merebahkan tubuh. Tapi, kadang aku sangat ingin mendengar suaranya ketika kejenuhan atau penat mulai menyiksaku. Aku sendiri tidak paham terhadap apa yang terjadi pada diriku mungkin benci atau mungkin sebuah rasa lain padanya. Satu malam tanpa bisa tidur aku mulai memikirkannya. Apakah benar dia bidadari seperti yang pernah dikatakannya di café itu? Ah, tidak mungkin. Tidak, tidak mungkin ada bidadari. Bukankah dia sangat cantik? Tapi, kata siapa? Bukankah hanya aku yang pernah melihatnya? Di café itu ketika dia pertama kali muncul, aku tidak tahu apakah yang hadir di café saat itu  juga melihatnya? Di rumah sakit? Bukankah itu hanya mimpi? Itu nyata, buktinya aku dan dia jadi pembicara di sebuah seminar seperti dikatakannya di rumah sakit? Nyata atau mimpi ya? Akhirnya sampai pagi, aku sama sekali tidak bisa tertidur.
Jakarta Hilton Convention Center, September 2010, pukul 19.00 penuh disesaki orang. Padahal, acara malam itu hanya sebuah seminar.  Meskipun seminar itu bertajuk seminar internasional, tetapi memang aneh jika yang hadir sedemikian banyak seperti hendak menonton konser musik. Bagiku, jelas ini sebuah prestasi yang luar biasa dari panitia, yang telah mempromosikan acara ini sedemikian rupa sehingga membuat banyak orang penasaran ingin menyaksikan seminar itu. Apa yang “dijual” panitia awalnya aku tidak tahu atau tepatnya tidak paham hingga aku melihat sebuah poster besar yang terpampang di depan gedung itu. Ya, yang dijual adalah “Sang Bidadari”, yaitu Dwi Maulidar. Potret besarnya di poster itu sudah cukup membuat semua mata terkagum-kagum.
Acara seminar sendiri akan dimulai pukul 19.30. Aku sudah hadir sejak magrib tadi. Beberapa kali aku mencoba menenangkan diri meskipun aku sering jadi pembicara dalam berbagai seminar, tetapi aku merasakan sesuatu yang lain, debaran jantung terasa berpacu lebih cepat. Aku sadar di seminar itu aku bukan bintangnya, bahkan justru mungkin aku menjadi “terdakwa”.
Pukul 19.15, saya dan dua pembicara luar sudah duduk di tempat yang disiapkan panitia. Dwi Maulidar belum tampak. Padahal, dialah yang ditunggu-tunggu oleh semua yang hadir. Ketika saya asyik berbincang-bincang dengan salah satu profesor, panitia menemui kami.
“Bapak-bapak, mohon maaf, ada yang punya nomor handphone Bu Dwi Maulidar? Kami sudah menghubungi beliau dengan nomor handphone yang ada pada kami, tetapi tidak aktif. Kami heran kok beliau belum hadir juga,” katanya.
“Saya punya,” kataku. Lalu, aku cari nomor handphone dan aku berikan pada panitia itu.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya. Dicobanya menelpon nomor tersebut. “Aduh, tidak aktif juga.”
Lantas, panitia itu meninggalkan kami, tampak ada kepanikan di wajahnya. Aku lihat dia menemui panitia-panitia lain, tak lama beberapa panitia bergegas keluar ruangan.
Pukul 19.30, acara seminar seharusnya dimulai. Tapi, panelis belum lengkap, Dwi Maulidar belum hadir. Panitia-panitia tampak sibuk ke sana-kemari. Seperti ada kepanikan. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Yang hadir pun mulai gelisah, bahkan ada satu-dua orang yang berteriak, “Ayo dong, dimulai acaranya!”
Pukul 19.45, Ketua Panitia tampil ke depan, seperti hendak mengumumkan sesuatu. “Mohon perhatiannya kepada hadirin… Sekali lagi, mohon perhatiannya….Kami atas nama panitia ingin mengumumkan bahwa acara seminar ini dengan terpaksa dibatalkan sebab pembicara utama kita, yaitu Ibu Dwi Maulidar, hilang dari kamar hotelnya…Kami sudah melaporkannya kepada pihak kepolisian. Sebab itu, sekali lagi kami mohon maaf atas kejadian yang sama-sama tidak kita inginkan ini. Dan, semoga Ibu Dwi Maulidar bisa ditemukan dalam keadaan tak kurang sesuatu apa pun…”
Setelah Ketua Panitia selesai mengumumkan itu, suasana ruangan itu semakin gaduh. Agak kacau. Aku dan para panelis lain saling berpandangan. Aku jelaskan kepada kedua panelis itu tentang situasi yang terjadi.
Tiba-tiba, handphone-ku bergetar, sebuah SMS masuk.
SMS dari Dwi Maulidar! Bunyinya, “Tolonglah aku…”
Dengan panik dan jantung berdebar kencang, aku segera menghubungi ke nomor itu. Tapi, hanya ada suara mesin yang kudengar, ”Nomor yang Anda hubungi tidak aktif atau di luar jangkauan…..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar