Minggu, 12 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 7



(6)
Aku terbangun.
Ketika aku akan membuka selimutku dan bergerak untuk bangun, sebuah tangan dengan kulit  halus tiba-tiba saja meraba dadaku, lantas dari balik selimut yang aku pakai, satu sosok dengan mesra memelukku.
 “Sayang sudah bangun?” tanyanya mesra.
“Iya,” jawabku ragu-ragu. Iya, ada keraguan pada jawabanku.
Lalu, sosok yang memelukku itu mengangkat kepalanya yang tadi terbenam di dadaku. Wajah yang sangat cantik! Sebelum aku sempat berpikir—atau bertanya, mungkin—sebuah ciuman mesra melumat bibirku beberapa saat.

“Sayang tiduran saja, ya, biar aku siapkan sarapan dulu,” katanya. Ia pun bangun dari tempat tidur keluar dari kamar.
Aku menatap sekeliling isi kamar itu. Ada meja hias yang penuh dengan berbagai kosmetika, parfum, dan perlengkapan perempuan lainnya. Terus, pada sebuah dinding kamar itu tergantung sebuah potret, potret sepasang pengantin. Aku perhatikan potret itu. Potretku dengan perempuan tadi! Betulkah aku sudah menikah? Begitu pikirku. Tapi, ada keraguan. Semua ingatanku samar-samar. Perempuan tadi masuk lagi ke kamarku. Melihatku duduk di pinggir tempat tidur, ia tersenyum lantas dengan sedikit berlari perlahan, ia pun menubrukku mesra dan menggumuliku. Dengan ragu, aku pun membalas keliarannya itu.
“Oh, suamiku….” Begitu desahnya yang aku dengar.
Hari itu aku seharian diajak istriku berputar-putar kota tempat kami tinggal. Ia banyak bercerita, aku hanya mendengarkan saja. Setiap kali berhenti dan bertemu dengan orang-orang diperkenalkannya aku, sebagai suaminya. Ditunjukkannya aku tempat-tempat romantis yang katanya tempat kami berpacaran dulu. Ya, aku percayai saja kata-katanya. Sebab sejauh ini, aku tak bisa mengingat apa-apa. Jujur saja, pada hari itu, seolah-olah aku sedang diberikan identitas baru. Tapi, aku sendiri tak mampu mengingat apa-apa tentang diriku. Pada akhirnya, aku simpulkan saja aku seorang suami dari perempuan yang sangat cantik dan pintar.
Kata istriku, kami memiliki lima toko di kota itu: 2 toko sembako, toko pakaian, toko buku, dan toko barang-barang antik. Aku pun ditunjukkannya toko-toko itu. Toko sembako dan toko pakaian kami sangat ramai. Toko buku kami, kata istriku, sangat terkenal di kota itu. Orang-orang terpelajar menjadikan toko buku rujukan. Kata istriku, pembeli dapat memesan buku yang tidak ada saat itu di toko buku kami, nanti toko kami akan mencarikan buku tersebut paling lambat dalam jangka waktu satu minggu. Bila buku itu sudah ada, toko kami akan menghubungi pembeli tersebut. Hebat, bukan? Di setiap lantai ada ruang baca dan ada kantin murah yang bersih dan enak. Pengunjung bisa berlama-lama di sana, bahkan bisa sampai malam. Toko buku itu buka hingga pukul 22.00. Istriku sering berada di toko buku itu, begitu katanya.
Toko terakhir yang kami kunjungi adalah toko barang antik. Bangunan sangat unik. Toko itu sepi, tapi selalu ada yang datang ke sana. Biasanya, turis asing. Kata istriku, toko barang antik kami itu ada di katalog perjalanan wisata. Hmmm, hebat! Betul istriku, begitu pikirku. Rasanya, aku tertarik dan betah di toko itu.
“Boleh tidak, aku yang menjaga toko ini?” kataku padanya.
Ada dua pelayan di toko itu. Mereka sedang mengelap dengan hati-hati barang-barang antik koleksi kami.
“Sayang suka toko ini?” tanyanya, menatapku dengan kemesraan tiada henti.
“Iya, suka sekali,” kataku.
“Baiklah. Mulai besok Sayangku boleh ke sini.”
“Boleh setiap hari?”
“Boleh.”
Aku gembira lalu secepat kilat aku kecup bibirnya.
Kami pun berjalan-jalan kembali. Aku ingin mengenali semua sudut kota ini. Istriku yang terus-terusan menjelaskan kota itu. Aku pun terus-terusan mendengarkannya meskipun sekali-kali aku pun bersuara, tetapi itu sebuah pertanyaan.
Oh, ya!? Tiba-tiba saja….
“Aku ingin meriakkan namamu,” kataku. Saat kami tiba di sebuah taman.
“Ahaa….!? Ayo, teriakkan saja!” Suaranya dengan nada gembira.
“Bagaimana meneriakkannya?” tanyaku.
“Ya, teriak saja, Sayang…. Sekeras-kerasnya tidak apa-apa.”
“Aku tahu itu. Tapi,…”
“Tapi?”
“Kata apa yang harus aku teriakkan?” tanyaku bingung.
Ia tersenyum, “Ya, namaku dong.”
“Maksudku… namamu apa?”
“Bukan apa, Sayang, tapi siapa,” katanya menggodaku.
Aku pun tersenyum. “Namamu siapa?”
“Sini, aku bisikkan namaku.”
Aku pun mendekatkan telingaku padanya. Ia membisikkan sebuah nama. Aku pun senyum mendengar nama itu.
“Ayo, teriakkan!” perintahnya.
Aku senyum, aku kumpulkan tenagaku…..lantas aku teriak…..
“Dwi Maulidaaaaaaaaaaaaaaaaar!”
Suara itu bergema ke seluruh pelosok kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar