(6)
Aku
terbangun.
Ketika aku
akan membuka selimutku dan bergerak untuk bangun, sebuah tangan dengan
kulit halus tiba-tiba saja meraba
dadaku, lantas dari balik selimut yang aku pakai, satu sosok dengan mesra
memelukku.
“Sayang sudah bangun?” tanyanya mesra.
“Iya,”
jawabku ragu-ragu. Iya, ada keraguan pada jawabanku.
Lalu,
sosok yang memelukku itu mengangkat kepalanya yang tadi terbenam di dadaku.
Wajah yang sangat cantik! Sebelum aku sempat berpikir—atau bertanya,
mungkin—sebuah ciuman mesra melumat bibirku beberapa saat.
“Sayang
tiduran saja, ya, biar aku siapkan sarapan dulu,” katanya. Ia pun bangun dari
tempat tidur keluar dari kamar.
Aku menatap
sekeliling isi kamar itu. Ada meja hias yang penuh dengan berbagai kosmetika,
parfum, dan perlengkapan perempuan lainnya. Terus, pada sebuah dinding kamar
itu tergantung sebuah potret, potret sepasang pengantin. Aku perhatikan potret
itu. Potretku dengan perempuan tadi! Betulkah aku sudah menikah? Begitu
pikirku. Tapi, ada keraguan. Semua ingatanku samar-samar. Perempuan tadi masuk
lagi ke kamarku. Melihatku duduk di pinggir tempat tidur, ia tersenyum lantas
dengan sedikit berlari perlahan, ia pun menubrukku mesra dan menggumuliku.
Dengan ragu, aku pun membalas keliarannya itu.
“Oh,
suamiku….” Begitu desahnya yang aku dengar.
Hari itu
aku seharian diajak istriku berputar-putar kota tempat kami tinggal. Ia banyak
bercerita, aku hanya mendengarkan saja. Setiap kali berhenti dan bertemu dengan
orang-orang diperkenalkannya aku, sebagai suaminya. Ditunjukkannya aku
tempat-tempat romantis yang katanya tempat kami berpacaran dulu. Ya, aku
percayai saja kata-katanya. Sebab sejauh ini, aku tak bisa mengingat apa-apa. Jujur
saja, pada hari itu, seolah-olah aku sedang diberikan identitas baru. Tapi, aku
sendiri tak mampu mengingat apa-apa tentang diriku. Pada akhirnya, aku
simpulkan saja aku seorang suami dari perempuan yang sangat cantik dan pintar.
Kata
istriku, kami memiliki lima toko di kota itu: 2 toko sembako, toko pakaian,
toko buku, dan toko barang-barang antik. Aku pun ditunjukkannya toko-toko itu.
Toko sembako dan toko pakaian kami sangat ramai. Toko buku kami, kata istriku,
sangat terkenal di kota itu. Orang-orang terpelajar menjadikan toko buku
rujukan. Kata istriku, pembeli dapat memesan buku yang tidak ada saat itu di
toko buku kami, nanti toko kami akan mencarikan buku tersebut paling lambat
dalam jangka waktu satu minggu. Bila buku itu sudah ada, toko kami akan
menghubungi pembeli tersebut. Hebat, bukan? Di setiap lantai ada ruang baca dan
ada kantin murah yang bersih dan enak. Pengunjung bisa berlama-lama di sana,
bahkan bisa sampai malam. Toko buku itu buka hingga pukul 22.00. Istriku sering
berada di toko buku itu, begitu katanya.
Toko
terakhir yang kami kunjungi adalah toko barang antik. Bangunan sangat unik.
Toko itu sepi, tapi selalu ada yang datang ke sana. Biasanya, turis asing. Kata
istriku, toko barang antik kami itu ada di katalog perjalanan wisata. Hmmm,
hebat! Betul istriku, begitu pikirku. Rasanya, aku tertarik dan betah di toko
itu.
“Boleh
tidak, aku yang menjaga toko ini?” kataku padanya.
Ada dua
pelayan di toko itu. Mereka sedang mengelap dengan hati-hati barang-barang
antik koleksi kami.
“Sayang
suka toko ini?” tanyanya, menatapku dengan kemesraan tiada henti.
“Iya, suka
sekali,” kataku.
“Baiklah.
Mulai besok Sayangku boleh ke sini.”
“Boleh
setiap hari?”
“Boleh.”
Aku
gembira lalu secepat kilat aku kecup bibirnya.
Kami pun
berjalan-jalan kembali. Aku ingin mengenali semua sudut kota ini. Istriku yang
terus-terusan menjelaskan kota itu. Aku pun terus-terusan mendengarkannya
meskipun sekali-kali aku pun bersuara, tetapi itu sebuah pertanyaan.
Oh, ya!?
Tiba-tiba saja….
“Aku ingin
meriakkan namamu,” kataku. Saat kami tiba di sebuah taman.
“Ahaa….!?
Ayo, teriakkan saja!” Suaranya dengan nada gembira.
“Bagaimana
meneriakkannya?” tanyaku.
“Ya,
teriak saja, Sayang…. Sekeras-kerasnya tidak apa-apa.”
“Aku tahu
itu. Tapi,…”
“Tapi?”
“Kata apa
yang harus aku teriakkan?” tanyaku bingung.
Ia
tersenyum, “Ya, namaku dong.”
“Maksudku…
namamu apa?”
“Bukan
apa, Sayang, tapi siapa,” katanya menggodaku.
Aku pun
tersenyum. “Namamu siapa?”
“Sini, aku
bisikkan namaku.”
Aku pun
mendekatkan telingaku padanya. Ia membisikkan sebuah nama. Aku pun senyum
mendengar nama itu.
“Ayo,
teriakkan!” perintahnya.
Aku
senyum, aku kumpulkan tenagaku…..lantas aku teriak…..
“Dwi
Maulidaaaaaaaaaaaaaaaaar!”
Suara itu
bergema ke seluruh pelosok kota.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar