Rabu, 08 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 6


(5)
Berita terbunuhnya Prof. James Anderson tidak menarik perhatian media massa. Sebab setelah jenazah Prof. James Anderson dipulangkan ke keluarganya, tak satu pun media massa yang memberitakannya. Sesekali saja dikabarkan bahwa kasus pembunuhan itu belum menemukan titik terang. Dan, tampaknya polisi pun tidak sungguh-sungguh untuk mengungkap kasus itu, mungkin sebab korban adalah orang asing.

Bagiku, pembunuhan Prof. James Anderson dan SMS Dwi Maulidar cukup membuatku shock. Aku pikir kasus Dwi Maulidar belum selesai. Keberadaan Dwi Maulidar masih sebuah misteri. Dalam pikiranku, kedua peristiwa itu seperti memiliki kaitan, tetapi apa kaitannya. Dwi Maulidar dan Prof. James Anderson berseberangan pikiran. Bagi Dwi Maulidari, bidadari itu ada. Sebaliknya, Prof. James Anderson-- dan juga aku-- menganggap bidadari itu imajinasi sehingga tidak mungkin ada.
Berkali-kali aku membuat hipotesis akan kejadian-kejadian itu tetapi selalu saja tidak memuaskan hatiku. Berkali-kali pula aku mencoba mencari jatidiri Dwi Maulidar dengan browsing di internet, bahkan bertanya pada panitia seminar, tetapi tetap saja Dwi Maulidar sebuah misteri. Di internet aku temukan banyak nama Dwi Maulidar yang ter-link ke berbagai situs media sosial, tetapi tak satu pun di situs-situs itu aku temukan Dwi Maulidar yang aku cari. Sedangkan, panitia seminar hanya memiliki nomor handphone Dwi Maulidar dan sebuah curriculum vitae yang hanya berisi nama dan pendidikannnya saja. Aku pun mencoba mencari kebenaran pendidikan Dwi Maulidar dengan mendatangi universitas dimana dia konon menyelesaikan program doktornya. Sekali lagi, aku pun kecewa sebab di sana tak ada nama Dwi Maulidar.
Berbeda dengan Dwi Maulidar, Biodata Prof. James Anderson terang benderang. Panitia seminar memberikan curriculum vitae-nya. Di sana ada alamat rumah, nomor telepon, bahkan universitas tempatnya mengajar. Di internet pun, banyak ucapan belangsungkawa kepada beliau yang disampaikan melalui universitasnya. Bahkan, aku pernah menelpon ke rumahnya dan diterima oleh istrinya yang tampaknya sangat berduka.
Sejauh ini aku tak menemukan sesuatu yang memuaskan hatiku.
Sore itu aku membuka emailku kembali. Rupanya, tanpa aku sadari ada satu email yang belum sempat aku buka. Email tersebut ternyata dikirim oleh Prof. James Anderson satu hari sebelum tewas. Aku membaca email itu. Awalnya, kalimat basa-basi menanyakan kabarku. Tetapi, pada bagian berikutnya Prof. James Anderson menjelaskan argumennya tentang penolakannya terhadap keberadaan bidadari. Argumen-argumen yang sangat menarik dan tentu saja ilmiah. Kemudian, pada bagian selanjutnya, Prof. James Anderson mengulas teori yang disampaikan Dwi Maulidar di berbagai artikel yang tersebar di beberapa jurnal. Jelas, menurutnya, teori Dwi Maulidar tidak kokoh sebab hanya dibangun dalam konsepsi kepercayaan agama, yang sangat sulit dibuktikan secara empirik. Dan, dikatakan lebih jauh, ada kemungkinan bahwa bidadari, seharusnya, tidak diartikan sebagai perempuan, melainkan sesuatu yang lain, entah apa namanya.
Pada bagian akhir email itu, Prof. James Anderson menyampaikan bahwa beberapa hari ini dia beberapa kali mendapat SMS yang berisi ancaman terkait pendapatnya itu. Pengirim SMS itu mengatasnamankan dirinya sebagai “Pemuja Bidadari”. Dan, Prof. James Anderson mengingatkan agar aku pun hati-hati.
Aku tertegun setelah membaca email tersebut.
Handphone terasa bergetar. Saat aku lihat layar handphone-ku, sebuah nomor tak dikenal sedang memanggilku.
“Halo,” kataku saat menerima panggilan itu.
“Halo, Pak. Pak, saya cuma ingin mengingatkan Bapak saja kalau nanti malam ada pertemuan untuk membahas proyek riset Bapak yang diajukan kepada kantor kami. Mohon Bapak untuk hadir tepat waktu,” kata suara di seberang sana.
“Ya, ya, saya pasti datang tepat waktu,” kataku. Untunglah, aku diingatkan. Aku sudah lupa tentang pertemuan itu. Saat menerima telepon, tadi aku pun kaget bahwa aku punya jadwal bertemu dengan pimpinan sebuah lembaga. Sekali lagi, untunglah ada yang mengingatkan. Malam itu aku keluar rumah menuju tempat pertemuanku.
Ternyata, aku tiba lebih dulu di tempat pertemuan. Di sebuah restoran di sebuah hotel terkenal. Ketika aku masuk, seorang pelayan langsung menyapaku dan menanyakan sesuatu. Dan, aku mengiyakannya. Lantas, diantarnya aku sebuah meja di restoran itu yang konon sudah dipesan untukku. Luar biasa, rupanya lembaga yang kutawarkan proposal itu cukup serius dan memperhatikan para mitranya, begitu pikirku.
Pelayan itu mengantar sebuah minuman ke mejaku.
“Terima kasih,” kataku. Saat minuman itu sudah di mejaku. Sebab sudah haus, aku pun segera meminumnya.
Aku lihat jam tanganku: kurang lima menit dari jadwal yang sudah dijanjikan. Dari arah pintu masuk aku lihat tiga perempuan mendatangi mejaku. Mereka tersenyum padaku. Aku pun tersenyum. Aku pikir mereka adalah yang mengundangku. Aku mencoba berdiri menyambut mereka. Tapi, kakiku terasa gemetar, kepalaku terasa pusing, dan lantas pandanganku berkunang-kunang dan berputar-putar. Aku pun terjatuh. Sayup-sayup terdengar suara perempuan-perempuan itu sebelum benar-benar aku tak tahu apa-apa.
“Formula yang dicampurkan pada minumannya sudah bekerja.”
“Suruh pengawal membawanya dari sini.”
 “………………………..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar