(5)
Berita
terbunuhnya Prof. James Anderson tidak menarik perhatian media massa. Sebab
setelah jenazah Prof. James Anderson dipulangkan ke keluarganya, tak satu pun
media massa yang memberitakannya. Sesekali saja dikabarkan bahwa kasus
pembunuhan itu belum menemukan titik terang. Dan, tampaknya polisi pun tidak
sungguh-sungguh untuk mengungkap kasus itu, mungkin sebab korban adalah orang
asing.
Bagiku,
pembunuhan Prof. James Anderson dan SMS Dwi Maulidar cukup membuatku shock. Aku pikir kasus Dwi Maulidar
belum selesai. Keberadaan Dwi Maulidar masih sebuah misteri. Dalam pikiranku,
kedua peristiwa itu seperti memiliki kaitan, tetapi apa kaitannya. Dwi Maulidar
dan Prof. James Anderson berseberangan pikiran. Bagi Dwi Maulidari, bidadari
itu ada. Sebaliknya, Prof. James Anderson-- dan juga aku-- menganggap bidadari
itu imajinasi sehingga tidak mungkin ada.
Berkali-kali
aku membuat hipotesis akan kejadian-kejadian itu tetapi selalu saja tidak
memuaskan hatiku. Berkali-kali pula aku mencoba mencari jatidiri Dwi Maulidar
dengan browsing di internet, bahkan
bertanya pada panitia seminar, tetapi tetap saja Dwi Maulidar sebuah misteri.
Di internet aku temukan banyak nama Dwi Maulidar yang ter-link ke berbagai situs media sosial, tetapi tak satu pun di
situs-situs itu aku temukan Dwi Maulidar yang aku cari. Sedangkan, panitia
seminar hanya memiliki nomor handphone
Dwi Maulidar dan sebuah curriculum vitae
yang hanya berisi nama dan pendidikannnya saja. Aku pun mencoba mencari
kebenaran pendidikan Dwi Maulidar dengan mendatangi universitas dimana dia
konon menyelesaikan program doktornya. Sekali lagi, aku pun kecewa sebab di
sana tak ada nama Dwi Maulidar.
Berbeda
dengan Dwi Maulidar, Biodata Prof. James Anderson terang benderang. Panitia
seminar memberikan curriculum vitae-nya.
Di sana ada alamat rumah, nomor telepon, bahkan universitas tempatnya mengajar.
Di internet pun, banyak ucapan belangsungkawa kepada beliau yang disampaikan
melalui universitasnya. Bahkan, aku pernah menelpon ke rumahnya dan diterima
oleh istrinya yang tampaknya sangat berduka.
Sejauh ini
aku tak menemukan sesuatu yang memuaskan hatiku.
Sore itu
aku membuka emailku kembali. Rupanya, tanpa aku sadari ada satu email yang
belum sempat aku buka. Email tersebut ternyata dikirim oleh Prof. James
Anderson satu hari sebelum tewas. Aku membaca email itu. Awalnya, kalimat
basa-basi menanyakan kabarku. Tetapi, pada bagian berikutnya Prof. James
Anderson menjelaskan argumennya tentang penolakannya terhadap keberadaan
bidadari. Argumen-argumen yang sangat menarik dan tentu saja ilmiah. Kemudian,
pada bagian selanjutnya, Prof. James Anderson mengulas teori yang disampaikan
Dwi Maulidar di berbagai artikel yang tersebar di beberapa jurnal. Jelas,
menurutnya, teori Dwi Maulidar tidak kokoh sebab hanya dibangun dalam konsepsi
kepercayaan agama, yang sangat sulit dibuktikan secara empirik. Dan, dikatakan
lebih jauh, ada kemungkinan bahwa bidadari, seharusnya, tidak diartikan sebagai
perempuan, melainkan sesuatu yang lain, entah apa namanya.
Pada
bagian akhir email itu, Prof. James Anderson menyampaikan bahwa beberapa hari
ini dia beberapa kali mendapat SMS yang berisi ancaman terkait pendapatnya itu.
Pengirim SMS itu mengatasnamankan dirinya sebagai “Pemuja Bidadari”. Dan, Prof.
James Anderson mengingatkan agar aku pun hati-hati.
Aku tertegun
setelah membaca email tersebut.
Handphone terasa bergetar. Saat aku
lihat layar handphone-ku, sebuah
nomor tak dikenal sedang memanggilku.
“Halo,”
kataku saat menerima panggilan itu.
“Halo,
Pak. Pak, saya cuma ingin mengingatkan Bapak saja kalau nanti malam ada
pertemuan untuk membahas proyek riset Bapak yang diajukan kepada kantor kami.
Mohon Bapak untuk hadir tepat waktu,” kata suara di seberang sana.
“Ya, ya,
saya pasti datang tepat waktu,” kataku. Untunglah, aku diingatkan. Aku sudah
lupa tentang pertemuan itu. Saat menerima telepon, tadi aku pun kaget bahwa aku
punya jadwal bertemu dengan pimpinan sebuah lembaga. Sekali lagi, untunglah ada
yang mengingatkan. Malam itu aku keluar rumah menuju tempat pertemuanku.
Ternyata,
aku tiba lebih dulu di tempat pertemuan. Di sebuah restoran di sebuah hotel
terkenal. Ketika aku masuk, seorang pelayan langsung menyapaku dan menanyakan
sesuatu. Dan, aku mengiyakannya. Lantas, diantarnya aku sebuah meja di restoran
itu yang konon sudah dipesan untukku. Luar biasa, rupanya lembaga yang
kutawarkan proposal itu cukup serius dan memperhatikan para mitranya, begitu
pikirku.
Pelayan
itu mengantar sebuah minuman ke mejaku.
“Terima
kasih,” kataku. Saat minuman itu sudah di mejaku. Sebab sudah haus, aku pun
segera meminumnya.
Aku lihat
jam tanganku: kurang lima menit dari jadwal yang sudah dijanjikan. Dari arah
pintu masuk aku lihat tiga perempuan mendatangi mejaku. Mereka tersenyum
padaku. Aku pun tersenyum. Aku pikir mereka adalah yang mengundangku. Aku mencoba
berdiri menyambut mereka. Tapi, kakiku terasa gemetar, kepalaku terasa pusing,
dan lantas pandanganku berkunang-kunang dan berputar-putar. Aku pun terjatuh.
Sayup-sayup terdengar suara perempuan-perempuan itu sebelum benar-benar aku tak
tahu apa-apa.
“Formula
yang dicampurkan pada minumannya sudah bekerja.”
“Suruh
pengawal membawanya dari sini.”
“………………………..”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar