(7)
ANTIQUE,
itulah nama tokoku. Sebagai toko barang antik, toko itu tidak terlalu besar dan
tidak terlalu ramai pengunjungnya. Sehari tokoku paling banyak dikunjungi
sepuluh orang. Itu pun kebanyakan orang asing yang mencari benda-benda antik
dari berbagai etnis di negeri ini. Konon banyak pengunjung asing yang
terkagum-kagum atas koleksi barang antik yang dimiliki toko kami itu. Aku
sendiri tidak tahu bagaimana cara istriku mendapatkan benda-benda tersebut.
Kata pegawai tokoku, barang-barang itu dicari sendiri oleh itriku sampai ke
pelosok-pelosok negeri, meskipun kadang juga ada yang datang menawarkan barang
antik kepada toko kami. Masih kata pegawaiku juga, istriku sangat teliti dalam
menguji orisinalitas barang-barang itu. Ia tidak segan-segan untuk menanyakan
kepada ahlinya, menguji materinya di laboratorium, bahkan kesejarahan
kepemilikan barang itu pun tak luput dipertanyakannya.
Dalam satu
pekan aku datang enam hari ke toko itu. Hanya hari Jumat aku tidak datang.
Kerjaku di toko itu hanya membaca-baca katalog dan menghafal harga barang.
Sesekali aku harus bertanya pada istriku tentang makna dari bentuk benda-benda
antik itu. Atau pun, bertanya tentang fungsi benda tersebut di masyarakat
etnisnya. Maksudku, tentu saja fungsi batin benda itu, bukan fungsi fisiknya.
Jika ada pembeli, pegawaikulah yang sering melayani. Tapi, transaksi berakhir
padaku: aku menerima uang pembayarannya.
Lima bulan
sudah aku menikmati keseharianku di tokoku.
Satu sore
seorang asing datang ke toko itu. Ia melihat beberapa barang antik. Pegawaiku
mengikutinya dan menjelaskan beberapa barang yang ditanyakannya. Rupanya,
penjelasan pegawaiku cukup memuaskannya. Tapi, ia meminta potongan harga. Dan, ia
pun meminta bertemu dengan manajer toko. Pegawaiku mengantarnya ke tempatku.
Orang
asing itu tampak terkejut melihatku.
“Hai, aku
kenal Anda….!” katanya setengah berteriak.
“Ini
manajer toko?” tanya pada pegawaiku.
“Iya,
Mister,” jawab pegawaiku yang terus kembali ke tempatnya bekerja.
Aku
terkejut mendengar orang asing berkata mengenalku.
“Maaf,
Mr….?” itu yang terucap olehku.
“Charles
Bloomstone,” katanya.
“Oh ya,
Mr. Bloomstone, di mana kita pernah berjumpa?” tanyaku.
“Seminar….Seminar
Bidadari… Anda ingat, bukan?” katanya.
Mendengar
kata itu, seperti ada sebuah sengatan listrik di pikiranku.
“Ada saya,
James Anderson, Dwi Maulidar, dan Anda sendiri, bukan?”
Sebuah
sengatan kembali menghentak pikiranku. Aku termenung.
“Seminar
Internasional tentang Bidadari…..” kata Charles, seperti sengaja memancing
ingatanku.
Seperti
ada segumpal data yang tiba-tiba muncul di pikiranku ketika aku mendengar kata
bidadari. Setengah jati diriku seperti kembali.
“Bidadari…ya,
bidadari…,” aku bergumam mengucapkan kata itu. Dan, tubuhku bergetar ketika
semua ingatanku tiba-tiba kembali. Aku berkeringat. Dan, aku mencoba tersenyum
pada Charles Bloomstone yang juga tersenyum.
“Nah,
rupanya Anda sudah ingat saya, bukan?” katanya.
“Iya, saya
ingat Anda…,”kataku tak selesaikan sebab aku lihat ada satu sosok memperhatikan
kami.
Rupanya,
sosok itu adalah istriku. Ia berdiri tak jauh dari kami. Sorot matanya tajam
menatapku!
“Bukankah
Anda yang datang ke toko ini sebulan lalu?” tiba-tiba saja kalimat itu yang
keluar dari mulutku.
“Hmmm,
rupanya saya salah orang. Maaf. Oh ya, bisakah saya mendapatkan diskon?”
Charles mengalihkan pembicaraan. Tampaknya, ia percaya bahwa dirinya berbicara
dengan orang yang salah.
“Tentu
saja Anda akan mendapat diskon,” begitu kata istriku, “agar Anda nanti kembali
lagi ke toko kami ini.
Istriku
melangkah menghampiri kami.
Charles
pun tersenyum.
Istriku
mengambil alih transaksi. Saat itulah aku diam-diam meninggalkan toko tersebut.
Bukan cuma meninggalkan toko tersebut, tetapi juga meninggalkan kota itu. Aku
kembali ke kotaku hari itu juga. Ke kota yang sudah hampir lima bulan aku
tinggalkan.
Ingatanku
hari itu benar-benar kembali.
(***)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar