Minggu, 12 Februari 2017

Taman Para Bidadari: 8


(7)
ANTIQUE, itulah nama tokoku. Sebagai toko barang antik, toko itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai pengunjungnya. Sehari tokoku paling banyak dikunjungi sepuluh orang. Itu pun kebanyakan orang asing yang mencari benda-benda antik dari berbagai etnis di negeri ini. Konon banyak pengunjung asing yang terkagum-kagum atas koleksi barang antik yang dimiliki toko kami itu. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara istriku mendapatkan benda-benda tersebut. Kata pegawai tokoku, barang-barang itu dicari sendiri oleh itriku sampai ke pelosok-pelosok negeri, meskipun kadang juga ada yang datang menawarkan barang antik kepada toko kami. Masih kata pegawaiku juga, istriku sangat teliti dalam menguji orisinalitas barang-barang itu. Ia tidak segan-segan untuk menanyakan kepada ahlinya, menguji materinya di laboratorium, bahkan kesejarahan kepemilikan barang itu pun tak luput dipertanyakannya.

Dalam satu pekan aku datang enam hari ke toko itu. Hanya hari Jumat aku tidak datang. Kerjaku di toko itu hanya membaca-baca katalog dan menghafal harga barang. Sesekali aku harus bertanya pada istriku tentang makna dari bentuk benda-benda antik itu. Atau pun, bertanya tentang fungsi benda tersebut di masyarakat etnisnya. Maksudku, tentu saja fungsi batin benda itu, bukan fungsi fisiknya. Jika ada pembeli, pegawaikulah yang sering melayani. Tapi, transaksi berakhir padaku: aku menerima uang pembayarannya.
Lima bulan sudah aku menikmati keseharianku di tokoku.
Satu sore seorang asing datang ke toko itu. Ia melihat beberapa barang antik. Pegawaiku mengikutinya dan menjelaskan beberapa barang yang ditanyakannya. Rupanya, penjelasan pegawaiku cukup memuaskannya. Tapi, ia meminta potongan harga. Dan, ia pun meminta bertemu dengan manajer toko. Pegawaiku mengantarnya ke tempatku.
Orang asing itu tampak terkejut melihatku.
“Hai, aku kenal Anda….!” katanya setengah berteriak.
“Ini manajer toko?” tanya pada pegawaiku.
“Iya, Mister,” jawab pegawaiku yang terus kembali ke tempatnya bekerja.
Aku terkejut mendengar orang asing berkata mengenalku.
“Maaf, Mr….?” itu yang terucap olehku.
“Charles Bloomstone,” katanya.
“Oh ya, Mr. Bloomstone, di mana kita pernah berjumpa?” tanyaku.
“Seminar….Seminar Bidadari… Anda ingat, bukan?” katanya.
Mendengar kata itu, seperti ada sebuah sengatan listrik di pikiranku.
“Ada saya, James Anderson, Dwi Maulidar, dan Anda sendiri, bukan?”
Sebuah sengatan kembali menghentak pikiranku. Aku termenung.
“Seminar Internasional tentang Bidadari…..” kata Charles, seperti sengaja memancing ingatanku.
Seperti ada segumpal data yang tiba-tiba muncul di pikiranku ketika aku mendengar kata bidadari. Setengah jati diriku seperti kembali.
“Bidadari…ya, bidadari…,” aku bergumam mengucapkan kata itu. Dan, tubuhku bergetar ketika semua ingatanku tiba-tiba kembali. Aku berkeringat. Dan, aku mencoba tersenyum pada Charles Bloomstone yang juga tersenyum.
“Nah, rupanya Anda sudah ingat saya, bukan?” katanya.
“Iya, saya ingat Anda…,”kataku tak selesaikan sebab aku lihat ada satu sosok memperhatikan kami.
Rupanya, sosok itu adalah istriku. Ia berdiri tak jauh dari kami. Sorot matanya tajam menatapku!
“Bukankah Anda yang datang ke toko ini sebulan lalu?” tiba-tiba saja kalimat itu yang keluar dari mulutku.
“Hmmm, rupanya saya salah orang. Maaf. Oh ya, bisakah saya mendapatkan diskon?” Charles mengalihkan pembicaraan. Tampaknya, ia percaya bahwa dirinya berbicara dengan orang yang salah.
“Tentu saja Anda akan mendapat diskon,” begitu kata istriku, “agar Anda nanti kembali lagi ke toko kami ini.
Istriku melangkah menghampiri kami.
Charles pun tersenyum.
Istriku mengambil alih transaksi. Saat itulah aku diam-diam meninggalkan toko tersebut. Bukan cuma meninggalkan toko tersebut, tetapi juga meninggalkan kota itu. Aku kembali ke kotaku hari itu juga. Ke kota yang sudah hampir lima bulan aku tinggalkan.
Ingatanku hari itu benar-benar kembali.

(***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar